Saturday, 11 February 2017

#NHW 3 : Love for Reflection

Apakah menulis surat cinta itu mudah?
Jawaban saya : Mudah dan Susah.
1. Mudah jika kita memang sedang jatuh cinta. Karena kepala dan hati kita dipenuhi dengan rasa yang membuncah. Sehingga untuk menuliskannya, hanya perkara mau atau tidak. 
2. Susah jika hati kita sedang merasakan "vibe" yang sebaliknya. Entah itu marah, sedih, kecewa, dsb. 

Maka kuncinya, betul. Kondisikan hati, paling tidak, posisikan ke "netral". Jika ada marah dan dendam, niscaya sampai kapanpun surat cinta tidak akan terbuat.  

Yes, Buatlah diri kita jatuh cinta. Caranya? tentu berbeda-beda setiap orang, tapi prinsipnya sama : Mengingat kembali, apa hal-hal yang membuat kita jatuh cinta.  Mengapa kita menyukai seseorang tersebut, dsb.

Menulis surat cinta bagi pasangan yang sudah menikah bisa menjadi semacam treatment alam bawah sadar, untuk saling menguatkan rasa dan komitmen. Sepanjang tidak berlebihan atau terkesan membual. 

Kemarin, saya  menulis surat cinta untuk suami saya. Mengatakan kepada dia betapa beruntungnya saya bersamanya. Dia mungkin bukan pria paling tampan, atau pria paling kaya. Tapi dia dan kesabarannya, adalah pelengkap sempurna bagi diri saya. Saya luapkan juga padanya apa yang saya rasakan selama hampir 2 tahun kami berkeluarga. Dinamika hidup kami. Dinamika yang untuk usia pernikahan seumur jagung seperti kami, cukup terasa kontrasnya "naik dan turun".

Lalu suami saya membalas surat saya. Balasan yang membuat saya tersentuh. Bukan, bukan karena kata-kata manis penuh bunga dan cinta. Tapi kata-kata yang mengandung penuh kesungguhan. Saya bisa merasakannya. Di pelupuk mata saya, bulir bening berdesakan ingin keluar. 


There's No Perfect. There's only Complete. 

Iya, jika mencari yang sempurna, niscaya kita tidak akan pernah puas. Kebahagiaan, kata orang bijak, sejatinya terletak pada rasa syukur. 

Saya pernah membuat tulisan "50 things why I love you" untuk suami saya sebagai hadiah anniversary yang pertama. Tapi 3 hal yang paling saya suka dari suami saya adalah ;

1.  Kesabarannya yang luar biasa.
Suami saya tidak pernah marah, apalagi membentak. Betapapun saya marah, merajuk, ngambek, atau menunjukkan perangai buruk padanya, dia tetap tersenyum dan berbicara lembut pada saya.

2. Ibadahnya
3. Lemah lembut / Santun pada semua orang, termasuk kepada orang yang menyakitinya. 

Itulah 3 hal yang membuat saya "amaze" padanya. Di luar dari sikap baiknya yang lain. Saya seringkali merasa, bahwa benar Allah memasangkan saya yang sensitif, dengan suami saya yang super sabar adalah ketetapan terbaik.


Her name is Ameera




Usianya baru 1 tahun, tanggal 3 ferbuari 2017 kemarin. Hadiah Allah yang membuat saya jatuh cinta bahkan sebelum saya memeluknya, menatap wajahnya secara nyata. Dia mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan saya memahami diri saya, lebih dari yang saya tahu sebelumnya. Dia malaikat saya. Malaikat berwajah teduh, yang terkadang membuat saya merasa bersalah karena belum maksimal menjaganya. 
1. Sejak bayi, dia tergolong anak yang tidak rewel.
2. Dia mudah beradaptasi dengan tempat atau orang baru, dengan penyesuaian yang wajar.
3. Kemampuannya belajar, terkadang membuat saya terkesima.


Untuk bayi cinta dan bapaknya, saya sangat bersyukur mereka ada untuk saya. I couldn't ask any better :) 
    

Meet "Me" : Sanguinis + Melankolis

Saat ikut seminar kepribadian, oleh "mereka" kepribadian saya dibaca. Ternyata, ilmu Allah luas sekali. Lewat ilmu, saya diberi penjelasan mengenai apa-apa yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Saya jadi mengerti, mengapa saya dinilai sebagai orang yang periang dan humoris oleh sebagian teman saya, walau saya merasa diri saya cengeng, sensitif dan sejenisnya. 

Saya juga pernah iseng bertanya pada teman-teman saya lewat sms : "Sebutkan 3 kata yang mewakilkan pribadi saya : Kiki Zakiah!"

Saya senang mendapati jawaban mereka yang bervariasi. But mostly, they labeled me "multitalented". 

Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju, Well itulah penilaian mereka. Sebenarnya saya hanya suka mencoba hal-hal baru. Ketika saya merasa tertarik pada sesuatu yang memang awalnya saya belum tahu saya bisa atau tidak, saya akan mencobanya. Mungkin itulah yang menyebabkan guru saya, memilih saya, seorang murid kelas IPA, dibandingkan murid kelas bahasa untuk mengikuti olimpiade bahasa inggris, dan lomba pidato 2 bahasa. Alhamdulillah, 1 medali perak dan 1 buah piala besar, berhasil saya sumbangkan untuk sekolah.

Selain menyukai hal-hal yang baru, saya cenderung mudah bosan. Semasa SMA dan kuliah, saya tidak mau menjadi siswa yang sekolah-pulang atau kuliah-pulang. Saya merasa, saya harus punya kesibukan. Saya ikut OSIS, saya jadi pimpinan redaksi majalah dinding sekolah, saya jadi MC kampus, saya jadi performer tari tradisional, juga menulis beberapa cerpen yang terbit di majalah nasional.

Semua itu karena saya suka mencoba hal yang baru dan menarik. Bukan karena saya mampu. Mampu atau tidak, menurut saya, kita akan tahu setelah kita mencobanya, 'kan?


Oke, pernah dengar 4 kepribadian dasar manusia? Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis? Jika belum, silakan googling. Atau beli bukunya stephen covey yang judul (bahasa indonesianya) "mengenal kepribadian diri untuk mengenal orang lain". Buku itu bagus banget!
Sesuai tujuan kepenulisannya, dengan baca buku itu, kita jadi tahu harus bersikap seperti apa terhadap orang yang bagaimana.

Menurut buku itu, setiap manusia punya 1 kepribadian dominan dan 1 kepribadian pendukung. biasanya 2 kepribadian itu sinergis, atau tidak bertolak belakang. Misalnya, Sanguinis dan koleris, atau plegmatis dan melankolis. Setelah mengikuti tes singkat menurut panduan buku itu di salah satu seminar, disimpulkan bahwa saya memiliki kepribadian tipe sanguinis dan melankolis. kata "mereka" lagi, itu adalah kepribadian yang cukup langka, karena sanguinis dan melankolis adalah kepribadian yang berlawanan :)
Beberapa sifat kuat yang melekat di diri saya adalah :
1. Sensitif : Iya, saya mudah sekali tersentuh, atau mudah sekali marah. Mengendalikannya sungguh menguras tenaga. hahaha
2. Besemangat. Well Organized : Mostly, I know what to do, and how to do. By research dan tanya-tanya juga lah yaaa :p
3. Periang, humoris : Itu kata orang. kadang saya merasa diri saya tidak lucu. tapi entahlah, kalian baru akan tahu kalau sudah mengenal saya kan? :p

But hey, bukankah setiap orang itu unik? Manusia jauh lebih kompleks untuk hanya dikotakkan menjadi 4 bagian, kan? Lebih dari itu, 4 adalah 1. Yang terpenting adalah bagaimana saling melengkapi.

Suami saya, Plegmatis pol-polan. kalau saya bisa kasih presentase, mungkin 80% lah ya. Hahaha. sisanya sanguinis. itulah mengapa saya masih bisa klik sama dia. Karena teorinya sanguinis bisa klik sama siapa aja, terutama sanguinis.

Kepribadian saya yang melankolis melengkapi plegmatisnya. itu terasa kalau kami diskusi berdua. Saya lebih dominan. Saya mampu mempengaruhi keputusan cenderung berdasarkan pemikiran saya. Namun untungnya, seiring berjalannya waktu, kami berdua bisa lebih menyesuaikan diri.


I can live anywhere

Sejak kecil, saya terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal. Mengikuti kemana saja ibu saya ditugaskan. Well it gives me many thougts, which I will share later. 

Saat ini, saya tinggal di Depok, di lingkungan yang cukup nyaman. Semakin ke sini, saya semakin menyadari, bahwa keberadaan saya di sini really meant to be something. Sejak saya kuliah di UI, dipertemukan dengan teman-teman, bergaul dengan orang sekitar, bahkan memulai bisnis, semuanya terasa saling kait mengait. Meskipun, saya masih menerka dan mencoba memahami apa yang sebenarnya Allah inginkan dari saya. Yang saya tahu, Allah ingin saya melakukan yang terbaik yang saya bisa, dari segala aspek yang saya jalani. Wallahu 'alam.