Iya, saya dan suami sepakat untuk menghindari kata tersebut, atau kalimat yang mengandung kata itu. Kami berupaya menggantinya dengan kalimat lain, atau lebih memilih mengatakan "tidak" dengan gelengan dan sorot mata jelas.
Misalnya, mengganti "Jangan lari" dengan "Jalan pelan ja yuk, nak!"
Judul di atas bukanlah teori semu. Coba saja, pada waktu yang tidak terduga, katakan pada sesorang di dekat anda. "Jangan lihat ke bawah!"
Apa reaksinya?
Yes, betul sekali. dia akan melihat ke bawah.
Bayangkan jika banyak sekali perintah dengan kata "jangan" pada anak-anak kita.
Apakah itu berlaku untuk anak-anak?
Well, tentu saja. Ketika kita berkata "jangan", maka sesungguhnya kita telah menyodorkan sesuatu untuk menjadi fokusnya.
#Komunikasi produktif
#KelasIIPbundsay
#level1
#day10
Wednesday, 14 June 2017
NO LABEL, Please.
Tetangga saya, memang senang sekali memperhatikan Ameera main di luar. Biasanya, Ameera main di luar pada pagi dan sore hari. Siapapun yang melihat Ameera bermain pasti mengiyakan bahwa Ameera ini memang aktif sekali. dia berlari ke sana sini dengan sesekali diiringi tawa riang. Aktifitas rutinnya itu tentu saja dengan pengawasan salah satu dari kami. Bisa saya, suami saya, atau Emak.
"Ameera, awas lubang!"
"Ameera, jangan lari-lari ke sana!"
kalimat itu tidak dikeluarkan oleh kami, tapi oleh mereka, tetangga kami yang ikut memperhatikan serunya Ameera bermain. Saya, atau suami saya, atau emak, tidak banyak berteriak. Untuk menjaga Ameera, kami hanya mengikuti langkah kecilnya. menghalagi lubang agar ia tidak terperosok, memindahkan batu, atau mengangkatnya sejenak untuk menghindari kubangan dalam.
Tidak ada masalah jika tetangga saya atau siapapun memperhatikan Ameera bermain, ikut mengawasinya, atau berkomentar. Tapi akan jadi masalah jika salah satu dari mereka mulai memberi label.
"Ameera, jangan lari ke sana! bandel ya!"
Oops. Alarm saya berbunyi mendengarnya.
Dengan tetap tersenyum saya melihat wajah orang itu dan berkata "Ameera nggak bandel, Ameera itu aktif. Dia belum lama baru bisa berlari. dia sedang mencoba kemampuan barunya dengan senang. Dia belum mengerti apa itu bahaya."
Tetangga saya terdiam. Mudah-mudahan dia tidak tersinggung. Tapi saya sungguh sangat menghindari label pada anak saya. Apalagi label negatif. apalagi Ameera masih 15 bulan.
Semoga, komunikasi saya sudah cukup tepat pada tetangga saya. Semoga tidak ada rasa tersinggung dalam dirinya. Aamin.
#komunikasiproduktif
#kelasIIPbundsay
#level1
#day9
"Ameera, awas lubang!"
"Ameera, jangan lari-lari ke sana!"
kalimat itu tidak dikeluarkan oleh kami, tapi oleh mereka, tetangga kami yang ikut memperhatikan serunya Ameera bermain. Saya, atau suami saya, atau emak, tidak banyak berteriak. Untuk menjaga Ameera, kami hanya mengikuti langkah kecilnya. menghalagi lubang agar ia tidak terperosok, memindahkan batu, atau mengangkatnya sejenak untuk menghindari kubangan dalam.
Tidak ada masalah jika tetangga saya atau siapapun memperhatikan Ameera bermain, ikut mengawasinya, atau berkomentar. Tapi akan jadi masalah jika salah satu dari mereka mulai memberi label.
"Ameera, jangan lari ke sana! bandel ya!"
Oops. Alarm saya berbunyi mendengarnya.
Dengan tetap tersenyum saya melihat wajah orang itu dan berkata "Ameera nggak bandel, Ameera itu aktif. Dia belum lama baru bisa berlari. dia sedang mencoba kemampuan barunya dengan senang. Dia belum mengerti apa itu bahaya."
Tetangga saya terdiam. Mudah-mudahan dia tidak tersinggung. Tapi saya sungguh sangat menghindari label pada anak saya. Apalagi label negatif. apalagi Ameera masih 15 bulan.
Semoga, komunikasi saya sudah cukup tepat pada tetangga saya. Semoga tidak ada rasa tersinggung dalam dirinya. Aamin.
#komunikasiproduktif
#kelasIIPbundsay
#level1
#day9
Mau main keluar ya? Pakai jilbab yuk
Sekarang, setiap
sebelum main ke luar, hampir pasti Ameera mencari kerudung dan sepatunya. Iya,
dia pasti mencari kerudungnya dan meminta orang terdekatnya untuk memakaikan.
Alhamdulillah, selama ini Ameera merasa betah-betah saja menggunakan kerudung.
Memang ada yang
berkomentar “Kasihan ih masih kecil dijilbabin.”, tapi saya tidak ambil pusing.
Karena saya hanya memberi contoh. Dan Ameera memakai kerudung karena memang dia
ingin. Dia yang meminta. Kalaupun saya memakainya jilbab, insya Allah itu bukan
paksaan. Ameera kan memang belum baligh, jadi bukan suatu kewajiban J
Tapi, tentu
saja, kembali lagi pada prinsip bahwa tidak ada sesuatu yang instant. Pemahaman
dan kebiasaan baik tentu harus dikenalkan sejak dini. Dan saya masih sangat
awam dan harus belajar tentang ini. Maka saya mulai dari apa yang saya bisa. Cukup
dengan berkata, “Mau main keluar ya? Pakai jilbab yuk!”
Semoga
Ameera menjadi anak yang sholehah, yang memegang teguh prinsip agama dalam
setiap aspek hidupnya. Aamiin.
#komunikasiproduktif
#kelasIIPbundsay
#level1
#day8
Belajar dari Ameera
Emak,
Pengasuh Ameera bercerita pada saya. Kalau ada anak tetangga main, Ameera,
putri saya itu, akan mengeluarkan semua mainannya dan (seolah) menyilakan anak
itu bermain dengan mainannya. Tidak hanya itu, Ameera juga sering dan senang
membagi apa yang ia makan. Ia akan membagi dua donatnya, kuenya, atau apapun
yang sedang dia makan untuk temannya.
Saya tersenyum
senang mendengar cerita Emak. Dan terharu, tentu saja. Ameera semata-mata
begitu tentu bukan karena saya, karena suami saya, atau karena emak. Tapi Allah
yang menggerakkan hatinya demikian. Kami hanya perantara, yang hanya bisa
berkata, “Makanannya dibagi, Nak.” Saat Ameera dikunjungi temannya.
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day7
Tidak Ada lagi tangisan bangun tidur
Sebelumnya,
Ameera, anak saya yang kini berusia 15 bulan itu, menangis jika bangun tidur. Saya
memang jadi sering memeluknya sambil berkata, “Ameera, sholehah, kenapa kalau
bangun tidur nangis?” Saya bertanya dengan senyum, saat Ameera sedang tenang,
agar fokus ke saya.
Saya melanjutkan,
“Nangis itu boleh, tapi kalau hanya sakit dan sedih.”
Dia mulai
mengalihkan pandangan, memain-mainkan kancing baju saya. Tapi saya yakin dia
mendengarkan.
“Ameera
sakit? Mana yang sakit?” Saya meraba dan menciumi dirinya. Dia tertawa-tawa.
“Nah,
Ameera ketawa, berarti Ameera nggak sedih.” Okay, mungkin Ameera belum mengerti
apa itu definisi sedih, sakit atau maksud dari pendahuluan yang sedang saya
lakukan ini. And why do I keep doing that? Karena saya percaya Ameera mengerti
bahwa saya sedang mengajaknya mengobrol dari hati ke hati. Saya percaya dia
menangkap maksud intonasi dan mimik saya
Lalu
keluarlah strategi KISS saya.
“Nanti
kalau bangun tidur panggil ummi ya.” Saya mencoba mencari bola matanya. Sambil
berkata dengan pelan namun jelas.
“Kita baca
doa bangun tidur sama-sama” lanjut saya, dengan memasang wajah yang ceria dan
senyum lebar, untuk memancing senyum Ameera. And she did.
Sekarang, kalau si bayi cinta pipi kapas dagu
marshmallow itu bangun, aka nada suara samar dari dalam kamar.
“Mii..,
mii.., mi…,” Begitu bunyinya. Bayi itu memanggil saya. Umminya.
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day6
Subscribe to:
Comments (Atom)