Wednesday, 14 June 2017

Jangan bilang "jangan"

Iya, saya dan suami sepakat untuk menghindari kata  tersebut, atau kalimat yang mengandung kata itu. Kami berupaya menggantinya dengan kalimat lain, atau lebih memilih mengatakan "tidak" dengan gelengan dan sorot mata jelas.

Misalnya, mengganti "Jangan lari" dengan "Jalan pelan ja yuk, nak!"

Judul di atas bukanlah teori semu. Coba saja, pada waktu yang tidak terduga, katakan pada sesorang di dekat anda. "Jangan lihat ke bawah!"
Apa reaksinya?
Yes, betul sekali. dia akan melihat ke bawah.

Bayangkan jika banyak sekali perintah dengan kata "jangan" pada anak-anak kita.
Apakah itu berlaku untuk anak-anak?
Well, tentu saja. Ketika kita berkata "jangan", maka sesungguhnya kita telah menyodorkan sesuatu untuk menjadi fokusnya.


#Komunikasi produktif
#KelasIIPbundsay
#level1
#day10

NO LABEL, Please.

Tetangga saya, memang senang sekali memperhatikan Ameera main di luar. Biasanya, Ameera main di luar pada pagi dan sore hari. Siapapun yang melihat Ameera bermain pasti mengiyakan bahwa Ameera ini memang aktif sekali. dia berlari ke sana sini dengan sesekali diiringi tawa riang. Aktifitas rutinnya itu tentu saja dengan pengawasan salah satu dari kami. Bisa saya, suami saya, atau Emak.

"Ameera, awas lubang!"
"Ameera, jangan lari-lari ke sana!"

kalimat itu tidak dikeluarkan oleh kami, tapi oleh mereka, tetangga kami yang ikut memperhatikan serunya Ameera bermain. Saya, atau suami saya, atau emak, tidak banyak berteriak. Untuk menjaga Ameera, kami hanya mengikuti langkah kecilnya. menghalagi lubang agar ia tidak terperosok, memindahkan batu, atau mengangkatnya sejenak untuk menghindari kubangan dalam. 

Tidak ada masalah jika tetangga saya atau siapapun memperhatikan Ameera bermain, ikut mengawasinya, atau berkomentar. Tapi akan jadi masalah jika salah satu dari mereka mulai memberi label.

"Ameera, jangan lari ke sana! bandel ya!"
Oops. Alarm saya berbunyi mendengarnya.

Dengan tetap tersenyum saya melihat wajah orang itu dan berkata "Ameera nggak bandel, Ameera itu aktif. Dia belum lama baru bisa berlari. dia sedang mencoba kemampuan barunya dengan senang. Dia belum mengerti apa itu bahaya."

Tetangga saya terdiam. Mudah-mudahan dia tidak tersinggung. Tapi saya sungguh sangat menghindari label pada anak saya. Apalagi label negatif. apalagi Ameera masih 15 bulan.

Semoga, komunikasi saya sudah cukup tepat pada tetangga saya. Semoga tidak ada rasa tersinggung dalam dirinya. Aamin.


#komunikasiproduktif
#kelasIIPbundsay
#level1
#day9


Mau main keluar ya? Pakai jilbab yuk



Sekarang, setiap sebelum main ke luar, hampir pasti Ameera mencari kerudung dan sepatunya. Iya, dia pasti mencari kerudungnya dan meminta orang terdekatnya untuk memakaikan. Alhamdulillah, selama ini Ameera merasa betah-betah saja menggunakan kerudung.

Memang ada yang berkomentar “Kasihan ih masih kecil dijilbabin.”, tapi saya tidak ambil pusing. Karena saya hanya memberi contoh. Dan Ameera memakai kerudung karena memang dia ingin. Dia yang meminta. Kalaupun saya memakainya jilbab, insya Allah itu bukan paksaan. Ameera kan memang belum baligh, jadi bukan suatu kewajiban J
Tapi, tentu saja, kembali lagi pada prinsip bahwa tidak ada sesuatu yang instant. Pemahaman dan kebiasaan baik tentu harus dikenalkan sejak dini. Dan saya masih sangat awam dan harus belajar tentang ini. Maka saya mulai dari apa yang saya bisa. Cukup dengan berkata, “Mau main keluar ya? Pakai jilbab yuk!”

Semoga Ameera menjadi anak yang sholehah, yang memegang teguh prinsip agama dalam setiap aspek hidupnya. Aamiin. 

#komunikasiproduktif
#kelasIIPbundsay
#level1
#day8

Belajar dari Ameera



Emak, Pengasuh Ameera bercerita pada saya. Kalau ada anak tetangga main, Ameera, putri saya itu, akan mengeluarkan semua mainannya dan (seolah) menyilakan anak itu bermain dengan mainannya. Tidak hanya itu, Ameera juga sering dan senang membagi apa yang ia makan. Ia akan membagi dua donatnya, kuenya, atau apapun yang sedang dia makan untuk temannya.

Saya tersenyum senang mendengar cerita Emak. Dan terharu, tentu saja. Ameera semata-mata begitu tentu bukan karena saya, karena suami saya, atau karena emak. Tapi Allah yang menggerakkan hatinya demikian. Kami hanya perantara, yang hanya bisa berkata, “Makanannya dibagi, Nak.” Saat Ameera dikunjungi temannya.

#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day7

Tidak Ada lagi tangisan bangun tidur



Sebelumnya, Ameera, anak saya yang kini berusia 15 bulan itu, menangis jika bangun tidur. Saya memang jadi sering memeluknya sambil berkata, “Ameera, sholehah, kenapa kalau bangun tidur nangis?” Saya bertanya dengan senyum, saat Ameera sedang tenang, agar fokus ke saya.

Saya melanjutkan, “Nangis itu boleh, tapi kalau hanya sakit dan sedih.”
Dia mulai mengalihkan pandangan, memain-mainkan kancing baju saya. Tapi saya yakin dia mendengarkan.

“Ameera sakit? Mana yang sakit?” Saya meraba dan menciumi dirinya. Dia tertawa-tawa.
“Nah, Ameera ketawa, berarti Ameera nggak sedih.” Okay, mungkin Ameera belum mengerti apa itu definisi sedih, sakit atau maksud dari pendahuluan yang sedang saya lakukan ini. And why do I keep doing that? Karena saya percaya Ameera mengerti bahwa saya sedang mengajaknya mengobrol dari hati ke hati. Saya percaya dia menangkap maksud intonasi dan mimik saya

Lalu keluarlah strategi KISS saya.
“Nanti kalau bangun tidur panggil ummi ya.” Saya mencoba mencari bola matanya. Sambil berkata dengan pelan namun jelas.
“Kita baca doa bangun tidur sama-sama” lanjut saya, dengan memasang wajah yang ceria dan senyum lebar, untuk memancing senyum Ameera. And she did.
 Sekarang, kalau si bayi cinta pipi kapas dagu marshmallow itu bangun, aka nada suara samar dari dalam kamar.
“Mii.., mii.., mi…,” Begitu bunyinya. Bayi itu memanggil saya. Umminya. 

#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day6