Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum.
It's been a while since the last post. Saya sudah menikah dan berkeluarga (juga sambil S2), sementara Marwah masih menyusun thesis di Malaysia sana. Meski masih sering berkomunikasi, kami sudah jarang "berpetualang bersama". Mungkin jika sudah tidak sibuk, Marwah akan menuliskan catatan perjalanannya di Vietnam, Hongkong, dan beberapa negara lain yang dikunjunginya sewaktu liburan. klik "Adventurous" untuk membaca cerita-cerita kami ya :)
Dari awal, sebenarnya blog ini hanya diperuntukkan sebagai catatan "perjalanan" dan "petualangan". Lain daripada itu, ditulis di blog pribadi. Namun, saat ini saya tidak bisa mengakses blog pribadi, sehingga tulisan saya yang tidak berhubungan secara langsung dengan "perjalanan" dan "petualangan" , akan dialihkan ke blog ini.
Well anyway, minggu lalu saya resmi bergabung dengan Institut Ibu Professional. Sesuai namanya, Grup ini bertujuan untuk mencetak para ibu menjadi professional. Nah, untuk mencapai tujuan, tentu ada proses yang perlu dijalani. salah satunya adalah NHW (Nice Home Work), yang akan saya tulis di blog ini mulai sekarang.
#NHW 1
Selesaikan setiap hari dan lupakanlah. Kau sudah melakukan apa yang kau bisa; beberapa kesalahan dan kejanggalan merayap masuk; lupakan secepat mungkin. Esok adalah hari baru, kau akan menemuinya dengan pikiran jernih, dan semangat yang terlalu tinggi untuk dibebani oleh omong kosongmu sendiri -Ralph Waldo Emerson.
Aku dan Bullying
Masa kecilku bisa dibilang tidak terlalu bahagia, karena yang tertinggal di memoriku pada masa itu, sebagian besar adalah bullying. Ya, aku pernah menjadi korban bullying saat aku duduk di sekolah dasar. Tiga tahun, kurang lebih. Di usia yang terbilang sangat muda. Saat itu, setiap pagi aku tidak ingin pergi sekolah, selalu ketakutan, dan yang ada dalam pikiranku adalah "penyiksaan apa lagi yang akan dilakukan oleh teman-temanku hari ini?"
Dan aku, tidak pernah mengadu pada orangtuaku. Sekecil itu, aku mengalamimya sendirian. Tidak pernah melewati hari dengan tidak menangis di sekolah. Orang tuaku tidak tahu. Itulah kesalahanku yang pertama.
Apa yang tersisa dari masa kecil yang menyakitkan itu?
RASA DENDAM.
Mengerikan. Setelah itu, walau aku beralih ke lingkungan yang lebih baik di masa remaja, Aku merasakan betapa sulitnya mengendalikan diri dari rasa marah, juga rasa sakit hati. Aku menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung, dan menarik diri dari hal-hal yang tidak aku sukai, instead of facing it. That's a hard time, I'm telling you.
The Reflection
Seandainya di Universitas ada mata kuliah "Forgiveness", maka aku akan mengambilnya. Tapi tidak. Memaafkan dan menjadi ikhlas adalah ilmu praktik, bukan teori. Itu hanya bisa kupelajari jika aku benar-benar merenungkan apa yang terjadi pada diriku atas reaksi orang lain, sebelum mengkonversinya menjadi suatu perasaan, atau pemikiran.
Apa yang menjadi alasan terkuat bagiku untuk mempelajari ilmu memaafkan, yang merupakan cabang dari ilmu ikhlas? It's simple. Karena dengan memaafkan, hati akan menjadi lapang. Dan hati yang lapang, akan membuahkan pikiran yang jernih. Hati yang lapang, pikiran yang jernih, berimplikasi pada akhlak yang baik. Akhlak yang baik, tidak akan menghasilkan rasa benci, apalagi dendam. It's a cycle. Ya, sebuah siklus. Dengan memperbaiki diri, mungkin kita akan membantu orang lain terhidar dari rasa benci dan dendam.
Dan dendam, Ibarat sampah. Sesuatu yang tidak berguna yang harus dibuang.
Mengapa aku harus membawa sampah di kepala dan hatiku ke mana-mana?
Jhon Rhon Method
Lalu, apa strategiku untuk "membuang sampah" itu?
Jika aku menuliskan suatu strategi, percayalah, bukan berarti aku sudah mahir dalam "membuang sampah". Sampai saat ini aku masih terus belajar dan melatihnya. Karena ini bagian dari ilmu ikhlas, latihannya setiap hari, tapi ujiannya sering mendadak :p.
Ada suatu kalimat yang aku ingat dari Jhon Rhon, "Untuk menyelesaikan masalah apapun, ada tiga hal yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri : Pertama, apa yang bisa kulakukan? Kedua apa yang bisa kubaca? Dan ketiga, siapa yang bisa kutanyai?"
Sesimpel itu. Pertama, Aku bisa memilih untuk diam, menarik napas, berwudhu, dan mengingat bahwa betapa ruginya menjadi marah dan dendam. Betapa Allah sangat menyayangi orang pemaaf, bahkan Allah menghapuskan dosa-dosa kita atas kesalahan orang lain yang kita maafkan. Kedua, tentu selain membaca Ayat Nya yang menenangkan, Biografi orang-orang yang menginspirasi sangat berarti. Bagaimana mereka menghadapi masa sulit dan tetap dengan hati yang baik menjalaninya. Apa yang mereka dapatkan? Kebaikan, dan kesuksesan. Membaca apapun yang terhubung dengan ini. Ketiga, lihatlah, siapa orang terdekat kita yang membuat kita kagum atas kesabaran dan keikhlasannya? dekati ia, tanyakan padanya, berbagilah, mintalah ia banyak bercerita. Niscaya dengan begitu kita akan merasakan sensasi yang berbeda. Sensasi menyembuhkan yang menyenangkan. :)
Empty Glass
Well, pada akhirnya, tentu saja semua itu menuntut perubahan sikap pada diriku sendiri. Perubahan apa yang bisa kuperbaiki dalam menuntut ilmu "membuang sampah"?
1. Pola pikir. "Mengosongkan gelas" saat berbicara dengan orang lain, menyaringnya sebelum memasukkan sesuatu ke dalam gelas. Yang memutuskan bahwa suatu ucapan, atau perbuatan itu menyakitkan hatiku sejatinya adalah kepalaku sendiri. Pun berlaku dariku ke orang lain.
2. Pola sikap. Sekalipun "kepala" gagal dalam interpretasi "rasa sedih / marah", Aku masih bisa memilih untuk tetap tenang, diam, dan menganggapya tidak penting. Agar memudahkan kepala melupakannya, dan mencegah hati bereaksi karenanya.
Semoga ini bukan hanya sekadar tulisan, semoga aku konsisten menjalankannya. Jika kalian membaca ini dan mengenalku secara personal, bantu ingatkan ya! Terima kasih sudah membaca catatan ini.
Wassalamualaikum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment