Friday, 24 February 2017

How Do I Learn? NHW #5

Am I the only one who got problem of trying to finish this NHW #5? hehehe


IIP ini keren banget. Sampai-sampai saya berpikir bahwa sebenarnya tugas yang diberikan hanya "kulit luar"nya saja. Bahwa sebenarnya tujuan yang diinginkan jauh dari itu, lebih dari itu : bagaimana "membentuk" atau "kembali meluruskan/mengoreksi" visi & misi kehidupan yang dijalani, untuk perbaikan masa mendatang, pada kita, maupun keturunan kita, yang juga berimplikasi pada orang lain. Jadi memang betul, butuh pemikiran yang matang dan benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkannya. dan saya belum merasa cukup. Tapi jika tidak memulai dan mencoba dikerjakan, maka ini tidak akan selesai. Tepat atau tidak, nanti saya akan tahu setelah saya membaca ulang dan melakukan evaluasi. Saya bisa saja memperbaikinya kan?

Untuk mengerjakan NHW #5 ini, saya menggunakan panduan yang harus saya jawab sendiri terlebih dahulu. Mau mulai menjalankan target kehidupan? Yuk jawab bareng-bareng dalam hati :

TAHAP 1 Mulai dengan masa laluApakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda:
  • Senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • Mengetahui cara meringkas?
  • Tanya diri kita sendiri tentang apa yang kita pelajari?
  • Apakah punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • Menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • Memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
  • Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
  • Bagaimana saya berkomunikasi untuk mendapatkan feedback system terhadap apa yang saya pelajari? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?
TAHAP 2 Teruskan ke masa sekarang, ambil mata pelajaran dalam universitas kehidupan ini.
  • Berminatkah anda?
  • Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
  • Apa yang bersaing dengan perhatian saya?
  • Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
  • Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
  • Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?
  • Apa yang mempengaruhi minat  anda terhadap pelajaran ini?
  • Apakah saya punya rencana?
  • Apakah rencana itu mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?
TAHAP 3 Pertimbangkan Proses
  • Apa judulnya?
  • Apa kunci kata yang menyolok?
  • Apakah saya mengerti?
  • Apakah yang telah saya ketahui?
  • Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?
  • Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
  • Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
  • Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
  • Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
  • Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
  • Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
  • Apakah saya berhenti dan meringkas?
  • Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
  • Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?
  • Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
  • Apakah saya perlu mendiskusi dengan “para pembelajar” lain untuk proses informasi lebih lanjut?
  • Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guru atau pustakawan?
TAHAP 4 Buat Review
  • Apakah kerjaan saya benar?
  • Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
  • Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?
  • Apakah saya memilih kondisi yang benar?
  • Apakah saya meneruskannya; apakah saya disiplin pada diri sendiri?
  • Apakah saya merasa sukses?
  • Apakah saya merayakan kesuksesan ini?

Tahap 1 : Gaya belajar di masa lalu

Mulai SMA, karena sistem yang diterapkan pada kelas saya, di sekolah saya, adalah presentasi, maka sejak itu saya belajar untuk mencari informasi sendiri, baik dari buku atau website, yang tentu saja harus saya baca dan saya ringkas untuk saya kembali jelaskan pada teman-teman saya di depan kelas. Saya pikir itu bagus untuk memperluas dan memperdalam pemahaman saya terhadap sesuatu. Selain itu, ingatan saya akan hal tersebut akan lebih bertahan lama, dibandingkan dengan saya "mendengarkan ceramah". Yes, because I do, I remember :). Terkadang, saya perlu waktu yang cukup lama untuk memahami sebuah materi baru. Saya harus belajar sendiri terlebih dahulu, mencari apa yang ingin saya ketahui, baru setelah itu dibahas dalam kelompok, atau ikut berdiskusi topik terkait dengan kelompok lain. Saya suka meringkas dan menandai poin-poin penting. Dari apa yang saya lalui, mencari dan membaca sebanyak-banyaknya lalu meringkas sumber adalah yang terbaik dibandingkan dengan sistem kebut semalam. Easy come, easy go. Sejauh ini, saya mendapatkan feedback system dari apa yang saya pelajari melalui ujian tertulis.

Tahap 2 Gaya belajar masa sekarang

Iya, saya punya rencana besar. Rencana yang menjadikan ilmu yang ingin saya dalami bukan hanya sekadar ilmu untuk "memuaskan diri", tapi juga benar-benar "berguna" bagi banyak orang. Ide-ide untuk merealisasikannya terkadang bermunculan dengan masif dan membuat saya bersemangat.
Saat ini, gaya belajar saya bukan hanya "cari-tulis-resume-diskusi-jawab soal" tapi menjadi "cari-tulis-resume-diskusi-praktekkan-evaluasi". Belajar langsung sesuai kebutuhan yang dirasa penting saat ini. Di luar kondisi yang bisa saya tangani, terkadang kebutuhan anak saya yang masih bayi tidak bisa diprediksi, sehingga waktu untuk belajar tidak terlalu leluasa. Saat saya butuh mencari, atau mempraktekkan, fisik saya terkadang sudah lelah duluan.

Tahap 3 Proses belajar saat ini
Sebagai seorang individu, ibu dan istri, serta anggota masyarakat, ada banyak ilmu kehidupan yang saya perlukan. Sumber informasi saya adalah dari bahan bacaan seperti buku, artikel, video, menghadiri seminar, dan perbincangan sehari-hari dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Informasi ini biasanya saya bagi dengan orang-orang terdekat, seperti suami. Terkadang, saya tambah dengan menuliskannya di blog.
Menulis itu dua kali membaca. mengikat apa yang kita baca. Dengan menulis, pemahaman terhadap suatu materi menjadi lebih dalam dibanding hanya dengan hanya mendengarkan atau membaca.

Tahap 4 Proses Review

Saya cukup nyaman dengan gaya belajar yang sekarang dengan mendiskusikan materi bersama suami, mempraktekkannya dalam keseharian, menuliskan dan membaginya pada orang lain. Dan pemahaman tertinggi  tetap di doing the real thing alias praktek dalam keseharian secara konsisten selama 99 hari. PRnya masih di disiplin diri dan konsisten melakukannya dalam waktu yang cukup.


Saturday, 18 February 2017

NHW #4


Setelah merenungkan tugas NHW #1, saya merasa harus merubah titik pusat fokus saya. Betul, ilmu memaafkan harus dan akan selalu coba diterapkan pada setiap sesi kehidupan. But I don’t wanna be a therapist. Saya tidak sanggup menjadi sekelas ustadz atau biksu yang punya hati sangat luas dan dapat menularkan kelapangan hatinya pada orang lain. Apalagi, checklist yang saya buat di NHW #2 belum sepenuhnya berhasil. Belum memuaskan. Tapi bukan berarti gagal ‘kan? Dan tidak jadi ustadzah bukan berarti tidak bias menjadi orang yang “lebih baik”.  Terus coba latih dan push diri to the limit!
Sekarang saya tahu tujuan saya. Saya ingin menjadi sociopreneur. Social Entrepreneur. Ya, Saat ini saya sedang merintis bisnis, dan saya ingin bisnisku ini bisa bermanfaat bagi orang lain, bagi banyak orang. Meski saya masih sangat baru, masih belajar dengan merangkak, Bismillah, saya akan berusaha. Doakan ya J
Jadi, singkatnya, Misi hidup saya adalah : Memberikan manfaat secara finansial (finansial support) pada yang membutuhkan.
Maka Bidang yang akan saya geluti adalah : Manajemen Bisnis dan Finansial
Adapun peran yang menjadi target saya tentu saja menjadi seorang sociopreneur.

Saya belum banyak membaca dan menyusun secara sempurna apa yang dibutuhkan dan harus saya pelajari untuk menjadi seorang sociopreneur. Tapi saat ini, beberapa langkah yang saya piker dapat membantu langkah saya mencapai tujuan saya adalah :
1.       Bisnis
2.       Marketing
3.       Manajemen
4.       Social Education
Milestone yang harus ditempuh :
KM 0 (28 tahun) – KM 1 ( tahun 1): Menguasai ilmu seputar bisnis, bisnis online, strategi bisnis.
KM 1 – KM 2 ( tahun 2)  : Menguasai Ilmu seputar marketing, Ads, online ads.
KM 2 – KM 3 (tahun 3)   : Menguasai Ilmu managemen, terutaman amanagemen bisnis dan finansial
KM 3 – KM 4 (tahun 4)   : Menguasai Ilmu sosial yang berkaitan dengan target saya sebagai sociopreneur.

Dan yap, Milestone ini belum dijabarkan secara rinci di checklist yang saya buat kemarin. Hanya tersirat secara garis besar di kolom “target mencapai omset”. But soon, akan saya perbaiki.

Bismillah, siapapun yang membaca ini, mohon bantu doaya, mari kita saling mendoakan dalam hal kebaikan J. Allah mendengar dan memeluk mimpi-mimpi kita.  Mengabulkan dengan caraNya.



         

Saturday, 11 February 2017

#NHW 3 : Love for Reflection

Apakah menulis surat cinta itu mudah?
Jawaban saya : Mudah dan Susah.
1. Mudah jika kita memang sedang jatuh cinta. Karena kepala dan hati kita dipenuhi dengan rasa yang membuncah. Sehingga untuk menuliskannya, hanya perkara mau atau tidak. 
2. Susah jika hati kita sedang merasakan "vibe" yang sebaliknya. Entah itu marah, sedih, kecewa, dsb. 

Maka kuncinya, betul. Kondisikan hati, paling tidak, posisikan ke "netral". Jika ada marah dan dendam, niscaya sampai kapanpun surat cinta tidak akan terbuat.  

Yes, Buatlah diri kita jatuh cinta. Caranya? tentu berbeda-beda setiap orang, tapi prinsipnya sama : Mengingat kembali, apa hal-hal yang membuat kita jatuh cinta.  Mengapa kita menyukai seseorang tersebut, dsb.

Menulis surat cinta bagi pasangan yang sudah menikah bisa menjadi semacam treatment alam bawah sadar, untuk saling menguatkan rasa dan komitmen. Sepanjang tidak berlebihan atau terkesan membual. 

Kemarin, saya  menulis surat cinta untuk suami saya. Mengatakan kepada dia betapa beruntungnya saya bersamanya. Dia mungkin bukan pria paling tampan, atau pria paling kaya. Tapi dia dan kesabarannya, adalah pelengkap sempurna bagi diri saya. Saya luapkan juga padanya apa yang saya rasakan selama hampir 2 tahun kami berkeluarga. Dinamika hidup kami. Dinamika yang untuk usia pernikahan seumur jagung seperti kami, cukup terasa kontrasnya "naik dan turun".

Lalu suami saya membalas surat saya. Balasan yang membuat saya tersentuh. Bukan, bukan karena kata-kata manis penuh bunga dan cinta. Tapi kata-kata yang mengandung penuh kesungguhan. Saya bisa merasakannya. Di pelupuk mata saya, bulir bening berdesakan ingin keluar. 


There's No Perfect. There's only Complete. 

Iya, jika mencari yang sempurna, niscaya kita tidak akan pernah puas. Kebahagiaan, kata orang bijak, sejatinya terletak pada rasa syukur. 

Saya pernah membuat tulisan "50 things why I love you" untuk suami saya sebagai hadiah anniversary yang pertama. Tapi 3 hal yang paling saya suka dari suami saya adalah ;

1.  Kesabarannya yang luar biasa.
Suami saya tidak pernah marah, apalagi membentak. Betapapun saya marah, merajuk, ngambek, atau menunjukkan perangai buruk padanya, dia tetap tersenyum dan berbicara lembut pada saya.

2. Ibadahnya
3. Lemah lembut / Santun pada semua orang, termasuk kepada orang yang menyakitinya. 

Itulah 3 hal yang membuat saya "amaze" padanya. Di luar dari sikap baiknya yang lain. Saya seringkali merasa, bahwa benar Allah memasangkan saya yang sensitif, dengan suami saya yang super sabar adalah ketetapan terbaik.


Her name is Ameera




Usianya baru 1 tahun, tanggal 3 ferbuari 2017 kemarin. Hadiah Allah yang membuat saya jatuh cinta bahkan sebelum saya memeluknya, menatap wajahnya secara nyata. Dia mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan saya memahami diri saya, lebih dari yang saya tahu sebelumnya. Dia malaikat saya. Malaikat berwajah teduh, yang terkadang membuat saya merasa bersalah karena belum maksimal menjaganya. 
1. Sejak bayi, dia tergolong anak yang tidak rewel.
2. Dia mudah beradaptasi dengan tempat atau orang baru, dengan penyesuaian yang wajar.
3. Kemampuannya belajar, terkadang membuat saya terkesima.


Untuk bayi cinta dan bapaknya, saya sangat bersyukur mereka ada untuk saya. I couldn't ask any better :) 
    

Meet "Me" : Sanguinis + Melankolis

Saat ikut seminar kepribadian, oleh "mereka" kepribadian saya dibaca. Ternyata, ilmu Allah luas sekali. Lewat ilmu, saya diberi penjelasan mengenai apa-apa yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Saya jadi mengerti, mengapa saya dinilai sebagai orang yang periang dan humoris oleh sebagian teman saya, walau saya merasa diri saya cengeng, sensitif dan sejenisnya. 

Saya juga pernah iseng bertanya pada teman-teman saya lewat sms : "Sebutkan 3 kata yang mewakilkan pribadi saya : Kiki Zakiah!"

Saya senang mendapati jawaban mereka yang bervariasi. But mostly, they labeled me "multitalented". 

Walaupun saya tidak sepenuhnya setuju, Well itulah penilaian mereka. Sebenarnya saya hanya suka mencoba hal-hal baru. Ketika saya merasa tertarik pada sesuatu yang memang awalnya saya belum tahu saya bisa atau tidak, saya akan mencobanya. Mungkin itulah yang menyebabkan guru saya, memilih saya, seorang murid kelas IPA, dibandingkan murid kelas bahasa untuk mengikuti olimpiade bahasa inggris, dan lomba pidato 2 bahasa. Alhamdulillah, 1 medali perak dan 1 buah piala besar, berhasil saya sumbangkan untuk sekolah.

Selain menyukai hal-hal yang baru, saya cenderung mudah bosan. Semasa SMA dan kuliah, saya tidak mau menjadi siswa yang sekolah-pulang atau kuliah-pulang. Saya merasa, saya harus punya kesibukan. Saya ikut OSIS, saya jadi pimpinan redaksi majalah dinding sekolah, saya jadi MC kampus, saya jadi performer tari tradisional, juga menulis beberapa cerpen yang terbit di majalah nasional.

Semua itu karena saya suka mencoba hal yang baru dan menarik. Bukan karena saya mampu. Mampu atau tidak, menurut saya, kita akan tahu setelah kita mencobanya, 'kan?


Oke, pernah dengar 4 kepribadian dasar manusia? Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis? Jika belum, silakan googling. Atau beli bukunya stephen covey yang judul (bahasa indonesianya) "mengenal kepribadian diri untuk mengenal orang lain". Buku itu bagus banget!
Sesuai tujuan kepenulisannya, dengan baca buku itu, kita jadi tahu harus bersikap seperti apa terhadap orang yang bagaimana.

Menurut buku itu, setiap manusia punya 1 kepribadian dominan dan 1 kepribadian pendukung. biasanya 2 kepribadian itu sinergis, atau tidak bertolak belakang. Misalnya, Sanguinis dan koleris, atau plegmatis dan melankolis. Setelah mengikuti tes singkat menurut panduan buku itu di salah satu seminar, disimpulkan bahwa saya memiliki kepribadian tipe sanguinis dan melankolis. kata "mereka" lagi, itu adalah kepribadian yang cukup langka, karena sanguinis dan melankolis adalah kepribadian yang berlawanan :)
Beberapa sifat kuat yang melekat di diri saya adalah :
1. Sensitif : Iya, saya mudah sekali tersentuh, atau mudah sekali marah. Mengendalikannya sungguh menguras tenaga. hahaha
2. Besemangat. Well Organized : Mostly, I know what to do, and how to do. By research dan tanya-tanya juga lah yaaa :p
3. Periang, humoris : Itu kata orang. kadang saya merasa diri saya tidak lucu. tapi entahlah, kalian baru akan tahu kalau sudah mengenal saya kan? :p

But hey, bukankah setiap orang itu unik? Manusia jauh lebih kompleks untuk hanya dikotakkan menjadi 4 bagian, kan? Lebih dari itu, 4 adalah 1. Yang terpenting adalah bagaimana saling melengkapi.

Suami saya, Plegmatis pol-polan. kalau saya bisa kasih presentase, mungkin 80% lah ya. Hahaha. sisanya sanguinis. itulah mengapa saya masih bisa klik sama dia. Karena teorinya sanguinis bisa klik sama siapa aja, terutama sanguinis.

Kepribadian saya yang melankolis melengkapi plegmatisnya. itu terasa kalau kami diskusi berdua. Saya lebih dominan. Saya mampu mempengaruhi keputusan cenderung berdasarkan pemikiran saya. Namun untungnya, seiring berjalannya waktu, kami berdua bisa lebih menyesuaikan diri.


I can live anywhere

Sejak kecil, saya terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal. Mengikuti kemana saja ibu saya ditugaskan. Well it gives me many thougts, which I will share later. 

Saat ini, saya tinggal di Depok, di lingkungan yang cukup nyaman. Semakin ke sini, saya semakin menyadari, bahwa keberadaan saya di sini really meant to be something. Sejak saya kuliah di UI, dipertemukan dengan teman-teman, bergaul dengan orang sekitar, bahkan memulai bisnis, semuanya terasa saling kait mengait. Meskipun, saya masih menerka dan mencoba memahami apa yang sebenarnya Allah inginkan dari saya. Yang saya tahu, Allah ingin saya melakukan yang terbaik yang saya bisa, dari segala aspek yang saya jalani. Wallahu 'alam.


Friday, 3 February 2017

Professionalism and Checklist

Kalau saya mendengar atau membaca profesional, rasanya kepala ini menjadi berat dan pusing. Pasalnya Professional dan professionalisme itu mengarah pada kesempurnaan, sedangkan saya ini jauuuh sekali dari sempurna.

Tapi sebenarnya, jika dikaji dan difikirkan lebih jauh, profesionalisme atau menjadi profesional itu bisa kok, tergantung dari apa definisi dan parameter profesional itu sendiri, juga bagaimana proses yang dilakukan untuk menuju ke sana. Sama seperti seorang bayi yang belajar makan. Sebelum dia mahir, apa iya makan langsung pakai sendok? begitu saya bicara pada diri saya sendiri.

Profesionalisme itu butuh target. Butuh pencapaian tertentu. Butuh proses, dan konsistensi. Dan untuk merangkum itu semua, harus ada "pengikat jalur". Karena itu saya mengerti mengapa tugas NHW #2 ini ada :) terima kasih ya IIP.

Meski sambil ingrek-ingsrek ingus yang meler dan kepala cenat-cenut, sebelum minum obat dan beranjak tidur, akhirnya saya membuat checklist versi saya. Demi konsistensi yang ingin saya bangun, demi hasil yang maksimal.

Well, jangan ketawain ya.



Tabel ini dirancang untuk dievaluasi setiap seminggu sekali. Semoga saya konsisten menjalankannya. Semangat!