IIP ini keren banget. Sampai-sampai saya berpikir bahwa sebenarnya tugas yang diberikan hanya "kulit luar"nya saja. Bahwa sebenarnya tujuan yang diinginkan jauh dari itu, lebih dari itu : bagaimana "membentuk" atau "kembali meluruskan/mengoreksi" visi & misi kehidupan yang dijalani, untuk perbaikan masa mendatang, pada kita, maupun keturunan kita, yang juga berimplikasi pada orang lain. Jadi memang betul, butuh pemikiran yang matang dan benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkannya. dan saya belum merasa cukup. Tapi jika tidak memulai dan mencoba dikerjakan, maka ini tidak akan selesai. Tepat atau tidak, nanti saya akan tahu setelah saya membaca ulang dan melakukan evaluasi. Saya bisa saja memperbaikinya kan?
Untuk mengerjakan NHW #5 ini, saya menggunakan panduan yang harus saya jawab sendiri terlebih dahulu. Mau mulai menjalankan target kehidupan? Yuk jawab bareng-bareng dalam hati :
TAHAP 1 Mulai dengan masa laluApakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda:
- Senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
- Mengetahui cara meringkas?
- Tanya diri kita sendiri tentang apa yang kita pelajari?
- Apakah punya akses ke informasi dari banyak sumber?
- Menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
- Memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
- Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
- Bagaimana saya berkomunikasi untuk mendapatkan feedback system terhadap apa yang saya pelajari? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?
TAHAP 2 Teruskan ke masa sekarang, ambil mata pelajaran dalam universitas kehidupan ini.
- Berminatkah anda?
- Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
- Apa yang bersaing dengan perhatian saya?
- Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
- Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
- Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?
- Apa yang mempengaruhi minat anda terhadap pelajaran ini?
- Apakah saya punya rencana?
- Apakah rencana itu mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?
TAHAP 3 Pertimbangkan Proses
- Apa judulnya?
- Apa kunci kata yang menyolok?
- Apakah saya mengerti?
- Apakah yang telah saya ketahui?
- Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?
- Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
- Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
- Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
- Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
- Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
- Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
- Apakah saya berhenti dan meringkas?
- Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
- Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?
- Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
- Apakah saya perlu mendiskusi dengan “para pembelajar” lain untuk proses informasi lebih lanjut?
- Apakah saya perlu mencari “para ahli”, guru atau pustakawan?
TAHAP 4 Buat Review
- Apakah kerjaan saya benar?
- Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
- Apakah rencana saya serupa dengan “diri sendiri”?
- Apakah saya memilih kondisi yang benar?
- Apakah saya meneruskannya; apakah saya disiplin pada diri sendiri?
- Apakah saya merasa sukses?
- Apakah saya merayakan kesuksesan ini?
Tahap 1 : Gaya belajar di masa lalu
Mulai SMA, karena sistem yang diterapkan pada kelas saya, di sekolah saya, adalah presentasi, maka sejak itu saya belajar untuk mencari informasi sendiri, baik dari buku atau website, yang tentu saja harus saya baca dan saya ringkas untuk saya kembali jelaskan pada teman-teman saya di depan kelas. Saya pikir itu bagus untuk memperluas dan memperdalam pemahaman saya terhadap sesuatu. Selain itu, ingatan saya akan hal tersebut akan lebih bertahan lama, dibandingkan dengan saya "mendengarkan ceramah". Yes, because I do, I remember :). Terkadang, saya perlu waktu yang cukup lama untuk memahami sebuah materi baru. Saya harus belajar sendiri terlebih dahulu, mencari apa yang ingin saya ketahui, baru setelah itu dibahas dalam kelompok, atau ikut berdiskusi topik terkait dengan kelompok lain. Saya suka meringkas dan menandai poin-poin penting. Dari apa yang saya lalui, mencari dan membaca sebanyak-banyaknya lalu meringkas sumber adalah yang terbaik dibandingkan dengan sistem kebut semalam. Easy come, easy go. Sejauh ini, saya mendapatkan feedback system dari apa yang saya pelajari melalui ujian tertulis.
Tahap 2 Gaya belajar masa sekarang
Iya, saya punya rencana besar. Rencana yang menjadikan ilmu yang ingin saya dalami bukan hanya sekadar ilmu untuk "memuaskan diri", tapi juga benar-benar "berguna" bagi banyak orang. Ide-ide untuk merealisasikannya terkadang bermunculan dengan masif dan membuat saya bersemangat.
Saat ini, gaya belajar saya bukan hanya "cari-tulis-resume-diskusi-jawab soal" tapi menjadi "cari-tulis-resume-diskusi-praktekkan-evaluasi". Belajar langsung sesuai kebutuhan yang dirasa penting saat ini. Di luar kondisi yang bisa saya tangani, terkadang kebutuhan anak saya yang masih bayi tidak bisa diprediksi, sehingga waktu untuk belajar tidak terlalu leluasa. Saat saya butuh mencari, atau mempraktekkan, fisik saya terkadang sudah lelah duluan.
Tahap 3 Proses belajar saat ini
Sebagai seorang individu, ibu dan istri, serta anggota masyarakat, ada banyak ilmu kehidupan yang saya perlukan. Sumber informasi saya adalah dari bahan bacaan seperti buku, artikel, video, menghadiri seminar, dan perbincangan sehari-hari dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Informasi ini biasanya saya bagi dengan orang-orang terdekat, seperti suami. Terkadang, saya tambah dengan menuliskannya di blog.
Menulis itu dua kali membaca. mengikat apa yang kita baca. Dengan menulis, pemahaman terhadap suatu materi menjadi lebih dalam dibanding hanya dengan hanya mendengarkan atau membaca.
Tahap 4 Proses Review
Saya cukup nyaman dengan gaya belajar yang sekarang dengan mendiskusikan materi bersama suami, mempraktekkannya dalam keseharian, menuliskan dan membaginya pada orang lain. Dan pemahaman tertinggi tetap di doing the real thing alias praktek dalam keseharian secara konsisten selama 99 hari. PRnya masih di disiplin diri dan konsisten melakukannya dalam waktu yang cukup.



No comments:
Post a Comment