Orang bilang, salah paham dalam sebuah hubungan pernikahan itu biasa. Cekcok atau ribut kecil itu biasa.
Benarkah?
*Tarik napas sejenak.
Kemarin, setelah saya melewati proses merenung yang cukup panjang, tentang banyak hal, terutama visi misi rumah tangga saya (duile, berat), saya memutuskan untuk ngobrol / sharing dengan suami (part 3). Memang, keputusannya resign untuk berbisnis sangat saya mengerti dan sangat saya hargai. Bahkan saya sudah menyetujuinya. Tapi saat ini, saya merasa bahwa keputusan saya waktu itu terlalu terburu-buru.
Waktu part 1, kami berdebat. itukah yang namanya ribut dalam pernikahan? kalau iya, saya tidak mau menyebutnya dengan "biasa". Karena rasanya tidak nyaman. Menyisakan "ganjalan" di hati.
Kemudian, setelah berniat melakukan sharing part 3, saya dalam keadaan sudah mendapatkan materi komunikasi produktif oleh IIP kelas bunda sayang. Wah, ini momen yang tepat!
Malam itu, sebelum tidur, saya memanggil namanya, lalu menatap matanya lembut (ehem), kemudian mulailah saya menyampaikan maksud saya (tentu tidak dengan terus-menerus menatap matanya ya. hehe) pelan-pelan, jelas, dan tanpa ada tendensi apa-apa. saya ingin komunikasi dan maksud/tujuan saya tercapai.
Dan begitulah. Malam itu rasanya terasa singkat, karena kami saling berbicara banyak sekali, dengan perasaan yang sangat nyaman.
saya merasa, mungkin beginilah maksudnya komunikasi produktif. Maksud kita tersampaikan, dan hati kita merasa lega.
satu hal lagi yang saya dapat dari praktek hari itu.
Use your brain to handle yourself, and use your heart to handle others.
#level1
#tantangan10hari
#day5
#kelasiipbundsay
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment