Sebelumnya,
Ameera, anak saya yang kini berusia 15 bulan itu, menangis jika bangun tidur. Saya
memang jadi sering memeluknya sambil berkata, “Ameera, sholehah, kenapa kalau
bangun tidur nangis?” Saya bertanya dengan senyum, saat Ameera sedang tenang,
agar fokus ke saya.
Saya melanjutkan,
“Nangis itu boleh, tapi kalau hanya sakit dan sedih.”
Dia mulai
mengalihkan pandangan, memain-mainkan kancing baju saya. Tapi saya yakin dia
mendengarkan.
“Ameera
sakit? Mana yang sakit?” Saya meraba dan menciumi dirinya. Dia tertawa-tawa.
“Nah,
Ameera ketawa, berarti Ameera nggak sedih.” Okay, mungkin Ameera belum mengerti
apa itu definisi sedih, sakit atau maksud dari pendahuluan yang sedang saya
lakukan ini. And why do I keep doing that? Karena saya percaya Ameera mengerti
bahwa saya sedang mengajaknya mengobrol dari hati ke hati. Saya percaya dia
menangkap maksud intonasi dan mimik saya
Lalu
keluarlah strategi KISS saya.
“Nanti
kalau bangun tidur panggil ummi ya.” Saya mencoba mencari bola matanya. Sambil
berkata dengan pelan namun jelas.
“Kita baca
doa bangun tidur sama-sama” lanjut saya, dengan memasang wajah yang ceria dan
senyum lebar, untuk memancing senyum Ameera. And she did.
Sekarang, kalau si bayi cinta pipi kapas dagu
marshmallow itu bangun, aka nada suara samar dari dalam kamar.
“Mii..,
mii.., mi…,” Begitu bunyinya. Bayi itu memanggil saya. Umminya.
#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day6
No comments:
Post a Comment