Wednesday, 14 June 2017

Tidak Ada lagi tangisan bangun tidur



Sebelumnya, Ameera, anak saya yang kini berusia 15 bulan itu, menangis jika bangun tidur. Saya memang jadi sering memeluknya sambil berkata, “Ameera, sholehah, kenapa kalau bangun tidur nangis?” Saya bertanya dengan senyum, saat Ameera sedang tenang, agar fokus ke saya.

Saya melanjutkan, “Nangis itu boleh, tapi kalau hanya sakit dan sedih.”
Dia mulai mengalihkan pandangan, memain-mainkan kancing baju saya. Tapi saya yakin dia mendengarkan.

“Ameera sakit? Mana yang sakit?” Saya meraba dan menciumi dirinya. Dia tertawa-tawa.
“Nah, Ameera ketawa, berarti Ameera nggak sedih.” Okay, mungkin Ameera belum mengerti apa itu definisi sedih, sakit atau maksud dari pendahuluan yang sedang saya lakukan ini. And why do I keep doing that? Karena saya percaya Ameera mengerti bahwa saya sedang mengajaknya mengobrol dari hati ke hati. Saya percaya dia menangkap maksud intonasi dan mimik saya

Lalu keluarlah strategi KISS saya.
“Nanti kalau bangun tidur panggil ummi ya.” Saya mencoba mencari bola matanya. Sambil berkata dengan pelan namun jelas.
“Kita baca doa bangun tidur sama-sama” lanjut saya, dengan memasang wajah yang ceria dan senyum lebar, untuk memancing senyum Ameera. And she did.
 Sekarang, kalau si bayi cinta pipi kapas dagu marshmallow itu bangun, aka nada suara samar dari dalam kamar.
“Mii.., mii.., mi…,” Begitu bunyinya. Bayi itu memanggil saya. Umminya. 

#komunikasiproduktif
#kelasiipbundsay
#level1
#day6

No comments:

Post a Comment