Postingan kali ini throwback jauh ke saat-saat kami masih kuliah. Sudah lama sekali
tapi pengalaman ini sangat tidak terlupakan. Karena perjalanan ini adalah
petualangan pertama kami traveling
berdua. Bahkan kami sendiri tidak percaya keberangkatan kali itu terjadi karena
terjadi dalam sekedip mata. Hari itu memang sudah direncanakan untuk Kiki singgah
di rumahku. Tiba-tiba kami bosan dan bingung, berfikir enaknya ngapain ya?
Waktu itu entah kenapa memang sedang
hangat-hangatnya trend jalan-jalan ke
pulau seribu dan banyak pula broadcast message travel agent yang bersaing menawarkan penawaran terbaiknya.
Pembicaraan kami mengarah ke traveling tanpa kami sadari. Tiba-tiba datang
sebuah ide untuk bertualang!
“Key, ke Pulau Seribu yuk” Ajakku
spontan.
“Serius? Ayuk aja aku mah”
***
Kami browsing banyak mengenai pulau seribu
dan bertemu sebuah website yang menawarkan harga yang lumayan mahasiswa pocket. Maklum lah, kami
ketika itu adalah mahasiswa yang mengandalkan Side Job sebagai tumpuan jajan tambahan kami untuk keperluan
memenuhi hasrat. Hehe. Travel agent
ini menurut kami sangat pas karena menawarkan perjalanan 2 hari 1 malam yang
jadwalnya sangat menarik. Dalam 2 hari sudah bisa ke berbagai tempat, dan bisa ikut
dengan rombongan orang lain. Berbeda dengan travel
agent lain yang pada umumnya mewajibkan 3 hari 2 malam perjalanan.
Kami saling pandang. Is this for real? Kita 2 perempuan nekad pergi traveling? Tapi kan gak
jauh-jauh banget. Cuma 2 hari 1 malam kok.
Akhirnya,
“Gue
oke! Lo?”
“Oke! Tinggal tanya Bunda”
Aku
teringat ayahku yang jauh disana. Meski tidak akan ketauan kalau tidak izin,
tapi aku tidak akan merasa tenang kalau tidak izin, meski itu pekerjaan yang
sangat berat buatku karena anak perempuan memang pada umumnya jadi perhatian
lebih. Alhamdulillah kami berdua diberi Izin.
***
Dengan taxi biru, kami berangkat
subuh-subuh dari rumah menuju pelabuhan Muara Angke. Dan sangat diluar dugaan
ketika kaca mobil dibuka untuk mengambil tiket masuk pelabuhan. Hanya 5 detik
dibuka kemudian ditutup kembali, satu detik kemudian kami seperti ikan dilempar
ke daratan. Taxi itu bau busuk, aku dan kiki hampir tidak bisa bernafas. Mau
buka jendela bukannya membantu malah akan memperburuk keadaan. Pelabuhan Muara
angke sangat bau karena tempat perdagangan ikan laut
yang sangat besar. Tempatnya becek dan sangat tidak terawat. Kaget
sekaget-kagetnya. Kami segera keluar taxi.
***
Kapal kami telah menunggu sejak pukul 5,
dan akan berangkat pukul 7. Sudah banyak penumpang yang duduk di dalam. Mungkin
karena kapal hanya untuk menyebrang sehingga tempat duduk sangat terbatas di bawah. Bagian atas tidak ada tempat duduk sama sekali dan semua orang
lesehan bahkan tidur-tiduran diantara barang-barang yang mereka bawa. Ada
sekelompok anak-anak setingkat SMA yang selama perjalanan bercanda ria, ada
yang berpasang-pasangan seperti hendak bulan madu, ada pula rombongan
keluarga yang bawaannya seperti mau
pindah rumah. Pemandangan yang sangat menarik.
Di tengah perjalanan kami melewati berapa
pulau yang tampak seperti tidak berpenghuni, ada pula pemandangan nelayan yang
sedang melempar jaring untuk menangkap ikan. Ada pula kapal lain yang melintas.
Angin dan ombak yang tenang membuat perjalanan kami terasa menenangkan. 2 jam
perjalanan menyebrang, tibalah kami di pulau pari.
Kami berdiri kebingungan akan dijemput
siapa, ternyata kami dijemput oleh angkutan motor yang memiliki bak
dibelakangnya seperti mobil bak. Kami tidak berdua saja, ada dua penumpang
lainnya yang ikut bersama kami. Ternyata mereka juga ikut dengan travel agent yang
sama dengan kami. Dan mereka juga 2 orang
perempuan. Kami berkenalan dan
alhamdulillah kami cocok berteman dengan mereka. Rani dan Tiara.
***
Tiba di Mes, kami langsung ambil barang
yang kami perlu dan berangkat untuk snorkling. Kami diantar dengan sampan
bermesin ke tengah lautan. Aku takjub karena selama ini yang aku ketahui adalah
semua laut itu sangat dalam. Ternyata di tempat kami snorkling ada batu karang
yang tinggi sehingga kami bisa berdiri di tengah laut. Ikan beragam warna dan
jenis tampak jelas didepan mata. Seperti memasukkan kepala ke dalam aquarium.
Tanaman-tanaman liarpun tampak jelas. Betapa bersyukurnya aku dapat melihat
keindahan ciptaan Allah yang mungkin tidak semua orang bisa lihat. Aku berucap “Fabiayyi aalaa irabbikuma tukadzibaan”.
Kami berenang jauh sampai tidak sadar
bahwa dibawah kami sudah tidak ada karang lagi. Kami kaget dan segera kembali
ke tempat yang berkarang kembali. Sebenarnya sudah diperingati oleh
instrukturnya, kami saja yang terlalu asik dengan keheranan kami.
Berkat teman baru kami, kami punya foto snorkling.
Sayangnya kami tidak punya foto dalam air,
kami hanya dijanjikan akan diberi foto kami yang dilaut, tapi karena untuk
mendapatkannya kami harus menggunakan kamera
salah satu traveler juga , sang guide tidak bisa memberi kami foto-foto
itu. Sungguh sangat mengecewakan.
Sepulang kami dari snorkling, kami diarahkan ke pantai harapan, bersepeda.
Jaraknya lumayan jauh bagi yang belum terbiasa dengan bersepeda seperti kami.
Tentu pegal-pegal. Hehe. Setibanya di pantai harapan, kembali kami disuguhkan
dengan keindahan alam ciptaan Tuhan. Pantai itu Indah sekali, pasir putih
terbentang luas, airnya hijau kalau dilihat dari jauh dan sangat bening ketika
kita dekati. Kami dapat melihat ikan-ikan kecil
berenang didekat kaki kami. Pantai itu tidak terlalu ramai sehingga kami bisa
bermain-main air sepuasnya. di sisi lain, Ada beberapa rombongan yang bermain
voli. Kami berempat minum air kelapa, memesan mie rebus sambil bertukar cerita.
Sore itu sangat berkesan.
Sepulang dari pantai, kami mengayuh sepeda
kami dan kemudian kembali dan bersiap untuk acara malam. Bakar jagung dan
seafood. Padat sekali memang schedule kami, menyerupai artis papan atas. Hehe. Aku
kira acara itu akan garing dengan akan terciptanya kubu-kubu dari beda-beda
kelompok traveler, ternyata acara itu
sangat hidup dan seru. Guide kami mengarahkan acara sehingga kami semua dengan
rombongan lain bermain game, tanpa terkecuali. Kami bermain game dengan
mengelilingi api unggun yang menerangi gelapnya tempat itu. Ada hukuman bagi
yang kalah. Ada yang nyanyi ada yang joget, seru sekali, liburannya terasa
hangat. We were so satisfied.
Kami setelah itu beristirahat di kamar
masing-masing, kamar kami terpisah dengan Rani dan Tiara. Dikamar kami ada 6
orang termasuk kami berdua. Untuk bisa sekamar dengan perempuan kita harus
pesan terlebih dahulu, kalau tidak bisa-bisa digabung dengan laki-laki. Umumnya
yang digabung adalah yang sudah berkeluarga, suami isteri. So, but kamu yang
mau traveling hati-hati yah.. J
Esok harinya agenda sedikit santai.
Pagi-pagi kami berempat sudah janjian untuk kembali ke pantai untuk foto-foto
dan sedikit menjelajah. Beruntung Rani membawa kamera SLRnya sehingga kami bisa
bergaya-gaya sepuasnya.
Kami menemukan beberapa sampan berjajar
dan siap membawa kami berkeliling sekitar pulau itu. Seorang Bapak tua membawa
kami berkeliling melihat pohon-pohon subur yang terendam air berwarna hijau
muda, diatas kami terbentang luas langit biru berawan putih bersih. Angin yang
berhembus pelan membuat kami sejenak diam untuk sekedar menikmati keadaan itu.
Ya Allah, indah sekali alam ciptaanMu ini. Suasana itu tidak bertahan lama
karena kami lebih memprioritaskan foto-foto. Hehe. Hampir setiap pose yang
diambil bagus. Pemandangannya sangat mendukung. Kami juga punya foto berempat,
thanks to Bapak pengayuh sampan yang sangat profesional dalam bekerja,
sepertinya ia mempelajari menggunakan kamera juga. Hasilnya tidak buruk meski
sedikit membuat wajah kita hampir tidak terlihat. Hehe.
Pulang dari tempat itu kami semua bergegas
untuk ke Mes. Persis pukul 12 kami bertolak menuju halte antar jemput
penumpang. Sebelum berangkat, kami sempat mengambil foto bersama dan guide kami
juga berteima kasih dan berharap perjalanan kami berkesan. Sangat berkesan
memang. J
***
Kami sedih sekali harus berpisah dengan teman-teman sesama traveler pulau pari. Terutama Rani dan Tiara. Perkenalan kami
yang hanya dua hari rasanya seperti sudah berteman lama. Tanpa kehadiran mereka
mungkin perjalanan kami tidak akan begitu berkesan sehingga kami sangat
merindukan perjalanan itu sampai sekarang. Rani, Tiara (semoga kalian
membaca blog ini) thanks for being our friends the whole trip. We really
miss you now! Kami
tidak pernah bertemu lagi sejak itu.
Perjalanan menyebrangi laut ke Jakarta
lebih berkesan karena kita sekarang berempat. Di tengah perjalanan kami disuguhi dengan
keindahan alam lagi. Airnya terpisah 2 warna, hijau dan biru. Subhanallah...
Entah mengapa ketika kami pulang,
sepanjang perjalanan aku terfikir akan kebaikan Allah kepada kami. Perjalanan
kami lancar semuanya, kami ditemani 2 teman baru, travel agent kamipun membuat
kami nyaman dalam liburan kami, belum lagi semua keindahan alam yang aku lihat
yang sangat asing bagiku. Indonesiaku begitu indah. Kesempatan itu mungkin
tidak semua orang bisa dapat. Sungguh tiada aku bisa membalas seluruh
kebaikannya.
Alhamdulillah...
No comments:
Post a Comment