Kami tidak
dapat memastikan apa yang membuat hati kami tertarik pada sebuah Negara bernama
Thailand, sehingga kami memutuskan untuk memesan tiket dan pergi ke sana.
Entahlah. Bahasanya? Kebudayaannya? Mungkin kami tidak bisa meneriakkan dengan
antusias apa yang menjadi alasan kami, tapi kami sepakat bahwa film roman dan film
bergenre sosial-persahabatan -produksi negara tersebut-yang dikemas dengan apik
memberi pengaruh yang cukup kuat pada pikiran dan mungkin- hati kami.
Jadi begitulah; tidak terlalu lama kami
mencari tiket murah, hingga akhirnya tiket menuju Bangkok dengan airport
internasional tujuan Don Moeang berhasil kami genggam.
Bandara Don Moeang menyambut
kedatangan kami pukul 9 malam ( tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan
Bangkok) . Kami menyusuri bandara dengan agak kikuk karena mata kami segera
disuguhkan dengan tulisan meringkel-ringkel
khas Thailand. Tapi ada rasa senang yang menyergap hati kami. Karena kami
menyadari : petualangan baru akan dimulai!
Kami berjalan gontai menuju
bagian imigrasi. Tiba-tiba dari arah kursi yang diduduki orang berwajah asia
memanggil kami “Permisi mbak, ada pulpen? Belum isi dokumen imigrasi.” Kami
menoleh. Oh, orang Indonesia. Satu
orang perempuan dan satu orang laki-laki. Dengan segera aku mengaduk isi tas
kecilku mencari satu-satunya pulpen yang aku bawa.
“Ini” aku menyerahkan pulpen berwarna
merah bertuliskan ‘University of Reading’. Lalu aku dan Marwah mengisi waktu menunggu
kami dengan mengambil gambar di lorong tempat kami berada. Lagipula tempat
tersebut memang sedang sepi.
Tidak lama kemudian, mereka
kembali menegur kami.
“Ini sudah selesai. Terimakasih.”
Yang perempuan menyerahkan pulpen itu kembali padaku. Aku tersenyum dan
mengambilnya.
“Sama-sama. Maaf, namanya siapa?”
aku mengulurkan tangan.
“Bony.” Katanya menyambut uluran
tanganku.
“Kiki” kataku dengan tersenyum.
Lalu kami berempat saling berkenalan dan berjalan bersama menuju bagian
imigrasi.
Tidak terlalu lama kami
mengantri, akhirnya giliran kami menuju meja imigrasi yang dilengkapi kamera. Aku
menyerahkan paspor dan dan dokumen Imigrasi. Setelah dibaca, petugas itu
menyerahkan kembali dokumen imigrasi yang telah kuisi.
“where do you live in Thailand?”
tanyanya dengan bahasa Inggris berdialek Thailand.
Aku berpikir sejenak. Di mana ya? Aku dan Marwah kan niatnya mau
langsung cari hostel termurah setelah sampai tujuan?
So I replied,
“I haven’t decided it yet. We’re
looking for a hostel soon in Khaosan”
Tapi dahinya berkerut. Wrong answer baby! Dan dia mengatakan
kalau aku harusnya sudah membooking hostel sebelum aku sampai. Sebenarnya aku
tahu itu. Beberapa buku traveling mengatakan hal yang serupa. Semua Negara yang
akan dikunjungi menyarankan begitu. Apalagi dengan Negara yang harus mengajukan
visa. Hal tersebut jadi syarat penting.
Di tengah kebingungan kami,
laki-laki yang tadi berkenalan dengan kami meneriakkan sebuah nama tempat pada
kami.
“Lucky Guest House” Katanya. Kami
segera menyebutkan kembali dan menuliskan nama hostel itu pada lembar imigrasi.
“Okay, now look at the camera.” Petugas
tersebut akhirnya menerima dokumen imigrasi kami. Caranya mengatakan ‘camera’
membuatku tersenyum. Dia mengganti huruf ‘r’ dengan ‘l’. yup, seperti orang
cadel. Tapi mungkin memang begitulah cara dia berbahasa Inggris. Akhirnya kami
selesai. Aku dan Marwah mengabungkan
diri dengan mereka berdua.
“Terimakasih” kataku pada mereka.
Mereka tersenyum. Kami berjalan bersama-sama menuju pintu keluar Airport.
“Jadi kalian belum booking
penginapan?” kata yang perempuan.
“Kalau ke luar negeri harus udah
booking dulu. Baru pertama ke luar negeri ya?” yang laki-laki menyahut dengan
senyum yang sedikit geli. Aku mencoba tersenyum.
“Kami sudah pernah ke Oman kok.” Marwah
menjawab cepat.
“Oh” katanya.
Lalu hening sejenak.
“Mau menginap di tempat kami?
Lucky Guest House?” si laki-laki itu bertanya. Matanya tertuju pada Marwah.
Marwah memandangku, seolah bertanya ‘How?’
“Murah kok di sana.” Katanya
lagi.
“ Mmmm sebenarnya kami punya
rencana sendiri.” Tapi entah mengapa kaki kami mengikuti langkah kedua orang
itu, meski kepala kami sibuk berpikir. Setelah beberapa kali berkasak-kusuk
dengan Marwah, akhirnya disepakati bahwa we’re stick on the plan.
“Maaf Kayaknya kita nggak ikut
kalian” Marwah mewakili untuk pamit. Mereka mengangguk. Lalu aku dan marwah
berjalan kembali masuk ke bandara menuju Tourist Information.
***
Dari tourist information yang kami datangi,
kami mendapat informasi bahwa bus yang akan membawa kami menuju khaosan adalah
bus orange bernomor 59. Tak lupa kami menanyakan ongkos busnya. Setelah
bertanya pada tourist information yang
terletak dekat pintu keluar bandara tersebut, kami berhenti di kios kecil dalam
bandara untuk menukar uang. Kami membeli dua air mineral yang merknya akan
selalu kuingat karena itu adalah air mineral yang rasanya paling aneh yang
pernah kuminum. Meninggalkan rasa pahit dan tidak nyaman di lidah dan
tenggorokan.
Psst.. merknya ‘Taurus’. :D
Setelah kami
tertawa-tawa karena mengomel-ngomel dalam bahasa Indonesia akibat si air
mineral menyiksa itu, Kami memutuskan untuk membuka peta sebelum kami keluar
(lagi) dari bandara dan mencari penginapan. Ketika kami sedang fokus
membuka-buka peta di ruang tunggu, seorang pria paruh baya menyapa kami.
“Assalamualaikum. Indonesia?”
katanya. Aku dan Marwah berpandangan.
“Waalaikumsalam. Iya kami dar
Indonesia.” Kami menjawab hampir berbarengan.
“Dari mana? Jakarta?” tanyanya lagi.
Kami mengiyakan. Lalu tanpa diminta, ia bercerita cukup banyak tentang dirinya.
Bahwa ia adalah orang Indonesia dan tinggal lama di Indonesia, bahwa kerusuhan
Indonesia membuatnya pergi ke Bangkok dan membuka usaha, bahwa ia pernah juga
tinggal di Australia dan membuka toko kelontong, sampai cerita bahwa ia pernah
bercerai dan akhirnya menikah dengan orang Thailand dan kini membuka bisnis
pariwisata. Kami mendengarkan dan sesekali berkomentar. Lalu akhirnya fokusnya
teralih.
“Kalian mau tinggal di mana di
Thailand?” Ia menyadari bahwa kami butuh bantuan. Kami tidak dapat menemukan
tulisan ‘Khaosan’ pada peta yang kami peroleh dari tourist information.
“Kami mau ke Khaosan Road.” Kami menjawab.
“Oh, kawasan itu memang kawasan
turis. Tapi kalau tidak salah, di dekat situ besok akan ada demo. Jadi
sebaiknya kalian tinggal agak jauh di situ. Kalian muslim kan? Kalian bisa
tinggal di bang lumpoo (baca: bang lampu)” Katanya memberi keterangan yang
sebenarnya kurang membantu karena yang ada di otak kami adalah : where is Khaosan? Is it near or far from
here? How can we go there? Etc. Tapi percakapan itu akhirya berakhir dengan
kami berpamitan (karena hari semakin malam) dan ia menyerahkan sebuah kartu
nama. Kami membacanya sekilas : Mr. Dika Prasetya – Advance finance consultant.
Tidak lupa ia berpesan,
“Kalau ada teman kalian dari
Indonesia mau jalan-jalan di sini bisa hubungi aku” katanya dengan senyum.
***
Kami berjalan
menuju bus stop yang tidak begitu jauh dari pintu keluar bandara. Di sepanjang
trotoarnya telah dipenuhi taxi argometer berbagai warna siap mencari penumpang.
Mata kami sigap memperhatikan bus-bus yang lewat. Sehingga jika bus bernomor 59
lewat, kami akan siap.
Dan benar saja,
kurang lebih sepuluh menit kami berdiri di sana, bus bernomor 59 berhenti di
depan kami. Kami segera naik dan duduk di kursi yang kosong. Lalu kami bertanya
pada ibu kondektur bus yang bertugas,
“Khaosan.” Kami berbicara agak
keras karena takut tidak terdengar.
“Oh no. no. no. No Khaosan. No.”
katanya cepat sambil megibas-ngibaskan tangan bertanda ‘tidak’.
What? So how? We have to stop here?
Katanya bus nomor 59 lewat Khaosan? gimana sih?
“Please stop. We’re just gonna
stop here.” Akhirnya kami memutuska untuk turun. Daripada nyasar. Ribet kan?
Then here we are. Di tempat bus
stop yang gelap sedikit remang karena kurang cahaya. Berpikir keras. Sedikit panik
dan bingung. Please, ini hari pertamaaaa… L
Lalu kami melihat seorang pemuda yang berdiri tidak
jauh dari tempat kami berdiri. Dengan sedikit nekad kami mendekatinya, berharap
mendapat pencerahan.
“Excuse me, do you speak
English?”
Dan ternyata, dia tidak bisa bicara bahasa
inggris sodara-sodara! Pupuslah harapan kami padanya. Kami lalu duduk di tempat
menunggu bus. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk naik
taxi menuju Khaosan. Yah, mudah-mudahan
saja tidak mahal
Setelah kami menyetop taxi dan
menaikinya, kami segera bilang pada pak sopir.
“Khaosan please.”
And you know what? He just
ngoceh-ngoceh tidak jelas seperti menggerutu. Oh my God, ternyata dia juga
tidak bisa bahasa inggris! Sementara ia melajukan taxinya 100 km / jam. Kami
berusaha tenang dan terus berdoa semoga saja si supir taxi tidak jahat. Setelah
lama harap-harap cemas dan mengalami gangguan telinga akibat ocehan dan desahan
dan gerutuan pak sopir itu, akhirnya kami tiba di khaosan road.
“Kaosan nah. Khaosan.” Katanya
dengan dialek Thailand yang sangat jelas.
“Right. Ok just stop here.” Kami
mengiyakan. Akhirnyaaa sampai juga kita di Khaosan!
***
Akhirnya, kami sampai pada sebuah
penginapan yang berada di jalan yang cukup sepi. Kami memutuskan menginap di
sana karena beberapa alasan. Berdasarka review
sebelumnya, tepat di depan penginapan itu ada semacam gedung pujasera tempat
makanan halal. Jadi itu akan memudahkan urusan logistik kami. Sayangnya, saat
itu, 24 November 2013 – gedung itu sedang di renovasi. Namun begitu, faktor
badan yang kelelahan dan kelaparan serta suasana yang sepi membuat kami
akhirnya membooking kamar dengan
fasilitas ac, kulkas tv dan water heater seharga 900 baht itu. Penginapan itu
terletak di Tanee Road, dengan nama ‘Thai Cozy House’.
Selesai dengan urusan penginapan,
kami dihadapkan pada urusan perut. Setelah berjalan menyusuri khaosan road yang
hingar bingar itu, kami memutuskan untuk makan di sebuah mini resto India.
Restoran halal. Kami menyantap nasi biryani yang kami pesan dengan lahap. Tadinya
untuk berhemat kami tidak memesan minuman, namun dengan baik hati si pemilik
restoran memberikan kami 2 botol air mineral. Okay, perut kenyang, mata
ngantuk.
Setelah kami kembali ke
penginapan dan bersih-bersih diri, tidak butuh waktu lama bagi mata kami untuk
terpejam.
Sampai jumpa lagi besok, Bangkok!
***
Hari kedua :
Kami terbangun dengan perasaan
senang. Karena begitu kami membuka mata, kami ingat bahwa kami sedang berada di
Thailand untuk berpetualang. Maka kami segera bersiap-siap untuk mengunjungi
beberapa destinasi hari ini.
Beruntung, kami tidak perlu repot
mencari sarapan karena penginapan kami menyediakan sarapan gratis untuk dua
orang. Satu porsi berisi dua butir telur ceplok, dua lembar roti yang
dilengkapi dengan butter dan selai, plus satu cangkir teh hangat ( tehnya boleh
nambah). Lumayan buat penghematan biaya perut. Hehe. Tidak sedikit orang yang
memperhatikan kami saat kami sarapan. Ya, ya mungkin karena (lagi-lagi) kami
mengenakan hijab dan kami cantik :p .
Hari ini kami akan mengunjungi sejumlah tempat wisata yang letaknya berdekatan karena berada dalam satu wilayah, yaitu Rattanakosin Island. Disebut pulau karena wilayah atau area tempat wisata ini berbatasan dengan Chao Praya River dan beberapa sungai kecil ( alam bahasa Thailand dsebut khlong), sehingga tampak seperti pulau. Karena Cukup banyak yang bisa dikunjungi di sana, kami mengagendakan waktu satu hari untuk berkeliling. Okay, berikut ini list bangunan yang kami ingin kunjungi :
1. Grand
Palace
2. Temple
of The Emerald Buddha (Wat Phra Kaew)
3. Temple
of Reclining Buddha (biasa dikenal dengan sebutan Wat Pho)
4. Temple
of the Dawn (Wat Arun)
5. National
Museum.
Tidak sulit untuk menuju
tempat-tempat tersebut karena dari penginapan kami, kami cukup berjalan kaki
selama kurang lebih 30 menit. Bukan hal yang menjemukan karena kami bisa sambil
melihat-lihat keadaan jalanan Thailand. Terlebih lagi waktu itu, 25 November
2013, demo sedang berlangsung di area pemerintahan di kota Bangkok. Dan kami
berjalan melewati kerumunan orang yang berdemo.
Syukurlah demo hari itu berlangsung damai, tidak ada kericuhan apalagi
sikap anarkis yang merugikan. Setelah 30 menit berjalan, akhirnya kami tiba di
Grand Palace dan Emerald Buddha karena tempatnya memang bersebelahan. Sudah
banyak sekali turis yang datang. Bermata biru, bermata sipit, berkulit terang,
berkulit gelap, dan mereka mengoceh dalam bahasa yang kebanyakan tidak aku
mengerti. Perlu diketahui bahwa untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus
berpakaian sopan. Tidak boleh mengenakan atasan yang terlalu terbuka dan
bawahan yang terlalu pendek. Turis-turis yang tidak masuk klasifikasi,
diharuskan mengganti atau melengkapi baju mereka di tempat yang telah
disediakan.
Grand Palace dan Emerald Buddha
Tempat ini terletak di Na Phra
Lan Road, buka setiap hari pada pukul 08.30 – 16.30. untuk memasuki kedua
tempat ini, dikenakan biaya sebesar 500 Baht (25 November 2013- 1 Rupiah = 380
Baht).
Bersambung...
aaaaaa sampe bingung mau komen apa, saking sambil mengkhayal+berimajinasi bacanya :D :p
ReplyDeleteHai professional blog designer! Terimakasih looh udah nyempetin baca di tengah2 'kesibukan menata'. Hihihi. Tunggu cerita sambungannya yaaa. :D
Delete