Monday, 2 June 2014

Thailand Journey

Hello, Thailand!


Kami tidak dapat memastikan apa yang membuat hati kami tertarik pada sebuah Negara bernama Thailand, sehingga kami memutuskan untuk memesan tiket dan pergi ke sana. Entahlah. Bahasanya? Kebudayaannya? Mungkin kami tidak bisa meneriakkan dengan antusias apa yang menjadi alasan kami, tapi kami sepakat bahwa film roman dan film bergenre sosial-persahabatan -produksi negara tersebut-yang dikemas dengan apik memberi pengaruh yang cukup kuat pada pikiran dan mungkin- hati kami.
 Jadi begitulah; tidak terlalu lama kami mencari tiket murah, hingga akhirnya tiket menuju Bangkok dengan airport internasional tujuan Don Moeang berhasil kami genggam.
 Hari pertama :

Bandara Don Moeang menyambut kedatangan kami pukul 9 malam ( tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok) . Kami menyusuri bandara dengan agak kikuk karena mata kami segera disuguhkan dengan tulisan meringkel-ringkel khas Thailand. Tapi ada rasa senang yang menyergap hati kami. Karena kami menyadari : petualangan baru akan dimulai!
Kami berjalan gontai menuju bagian imigrasi. Tiba-tiba dari arah kursi yang diduduki orang berwajah asia memanggil kami “Permisi mbak, ada pulpen? Belum isi dokumen imigrasi.” Kami menoleh. Oh, orang Indonesia. Satu orang perempuan dan satu orang laki-laki. Dengan segera aku mengaduk isi tas kecilku mencari satu-satunya pulpen yang aku bawa.

“Ini” aku menyerahkan pulpen berwarna merah bertuliskan ‘University of Reading’. Lalu aku dan Marwah mengisi waktu menunggu kami dengan mengambil gambar di lorong tempat kami berada. Lagipula tempat tersebut memang sedang sepi.
Tidak lama kemudian, mereka kembali menegur kami.
“Ini sudah selesai. Terimakasih.” Yang perempuan menyerahkan pulpen itu kembali padaku. Aku tersenyum dan mengambilnya.
“Sama-sama. Maaf, namanya siapa?” aku mengulurkan tangan.
“Bony.” Katanya menyambut uluran tanganku.
“Kiki” kataku dengan tersenyum. Lalu kami berempat saling berkenalan dan berjalan bersama menuju bagian imigrasi.

Tidak terlalu lama kami mengantri, akhirnya giliran kami menuju meja imigrasi yang dilengkapi kamera. Aku menyerahkan paspor dan dan dokumen Imigrasi. Setelah dibaca, petugas itu menyerahkan kembali dokumen imigrasi yang telah kuisi.
“where do you live in Thailand?” tanyanya dengan bahasa Inggris berdialek Thailand.

Aku berpikir sejenak. Di mana ya? Aku dan Marwah kan niatnya mau langsung cari hostel termurah setelah sampai tujuan?
So I replied,
“I haven’t decided it yet. We’re looking for a hostel soon in Khaosan”

Tapi dahinya berkerut. Wrong answer baby! Dan dia mengatakan kalau aku harusnya sudah membooking hostel sebelum aku sampai. Sebenarnya aku tahu itu. Beberapa buku traveling mengatakan hal yang serupa. Semua Negara yang akan dikunjungi menyarankan begitu. Apalagi dengan Negara yang harus mengajukan visa. Hal tersebut jadi syarat penting.
Di tengah kebingungan kami, laki-laki yang tadi berkenalan dengan kami meneriakkan sebuah nama tempat pada kami.

“Lucky Guest House” Katanya. Kami segera menyebutkan kembali dan menuliskan nama hostel itu pada lembar imigrasi.
“Okay, now look at the camera.” Petugas tersebut akhirnya menerima dokumen imigrasi kami. Caranya mengatakan ‘camera’ membuatku tersenyum. Dia mengganti huruf ‘r’ dengan ‘l’. yup, seperti orang cadel. Tapi mungkin memang begitulah cara dia berbahasa Inggris. Akhirnya kami selesai.  Aku dan Marwah mengabungkan diri dengan mereka berdua.
“Terimakasih” kataku pada mereka. Mereka tersenyum. Kami berjalan bersama-sama menuju pintu keluar Airport.
“Jadi kalian belum booking penginapan?” kata yang perempuan.
“Kalau ke luar negeri harus udah booking dulu. Baru pertama ke luar negeri ya?” yang laki-laki menyahut dengan senyum yang sedikit geli. Aku mencoba tersenyum.
“Kami sudah pernah ke Oman kok.” Marwah menjawab cepat.
“Oh” katanya.
Lalu hening sejenak.
“Mau menginap di tempat kami? Lucky Guest House?” si laki-laki itu bertanya. Matanya tertuju pada Marwah. Marwah memandangku, seolah bertanya ‘How?’
“Murah kok di sana.” Katanya lagi.
“ Mmmm sebenarnya kami punya rencana sendiri.” Tapi entah mengapa kaki kami mengikuti langkah kedua orang itu, meski kepala kami sibuk berpikir. Setelah beberapa kali berkasak-kusuk dengan Marwah, akhirnya disepakati bahwa we’re stick on the plan.
“Maaf Kayaknya kita nggak ikut kalian” Marwah mewakili untuk pamit. Mereka mengangguk. Lalu aku dan marwah berjalan kembali masuk ke bandara menuju Tourist Information.

***
Dari tourist information yang kami datangi, kami mendapat informasi bahwa bus yang akan membawa kami menuju khaosan adalah bus orange bernomor 59. Tak lupa kami menanyakan ongkos busnya. Setelah bertanya pada tourist information yang terletak dekat pintu keluar bandara tersebut, kami berhenti di kios kecil dalam bandara untuk menukar uang. Kami membeli dua air mineral yang merknya akan selalu kuingat karena itu adalah air mineral yang rasanya paling aneh yang pernah kuminum. Meninggalkan rasa pahit dan tidak nyaman di lidah dan tenggorokan.
Psst.. merknya ‘Taurus’. :D

Setelah kami tertawa-tawa karena mengomel-ngomel dalam bahasa Indonesia akibat si air mineral menyiksa itu, Kami memutuskan untuk membuka peta sebelum kami keluar (lagi) dari bandara dan mencari penginapan. Ketika kami sedang fokus membuka-buka peta di ruang tunggu, seorang pria paruh baya menyapa kami.
“Assalamualaikum. Indonesia?” katanya. Aku dan Marwah berpandangan.
“Waalaikumsalam. Iya kami dar Indonesia.” Kami menjawab hampir berbarengan.
“Dari mana? Jakarta?” tanyanya lagi.

Kami mengiyakan. Lalu tanpa diminta, ia bercerita cukup banyak tentang dirinya. Bahwa ia adalah orang Indonesia dan tinggal lama di Indonesia, bahwa kerusuhan Indonesia membuatnya pergi ke Bangkok dan membuka usaha, bahwa ia pernah juga tinggal di Australia dan membuka toko kelontong, sampai cerita bahwa ia pernah bercerai dan akhirnya menikah dengan orang Thailand dan kini membuka bisnis pariwisata. Kami mendengarkan dan sesekali berkomentar. Lalu akhirnya fokusnya teralih.
“Kalian mau tinggal di mana di Thailand?” Ia menyadari bahwa kami butuh bantuan. Kami tidak dapat menemukan tulisan ‘Khaosan’ pada peta yang kami peroleh dari tourist information.
“Kami mau ke Khaosan Road.” Kami menjawab.
“Oh, kawasan itu memang kawasan turis. Tapi kalau tidak salah, di dekat situ besok akan ada demo. Jadi sebaiknya kalian tinggal agak jauh di situ. Kalian muslim kan? Kalian bisa tinggal di bang lumpoo (baca: bang lampu)” Katanya memberi keterangan yang sebenarnya kurang membantu karena yang ada di otak kami adalah : where is Khaosan? Is it near or far from here? How can we go there? Etc. Tapi percakapan itu akhirya berakhir dengan kami berpamitan (karena hari semakin malam) dan ia menyerahkan sebuah kartu nama. Kami membacanya sekilas : Mr. Dika Prasetya – Advance finance consultant.

 Tidak lupa ia berpesan,
“Kalau ada teman kalian dari Indonesia mau jalan-jalan di sini bisa hubungi aku” katanya dengan senyum.
***
Kami berjalan menuju bus stop yang tidak begitu jauh dari pintu keluar bandara. Di sepanjang trotoarnya telah dipenuhi taxi argometer berbagai warna siap mencari penumpang. Mata kami sigap memperhatikan bus-bus yang lewat. Sehingga jika bus bernomor 59 lewat, kami akan siap.
Dan benar saja, kurang lebih sepuluh menit kami berdiri di sana, bus bernomor 59 berhenti di depan kami. Kami segera naik dan duduk di kursi yang kosong. Lalu kami bertanya pada ibu kondektur bus yang bertugas,
“Khaosan.” Kami berbicara agak keras karena takut tidak terdengar.
“Oh no. no. no. No Khaosan. No.” katanya cepat sambil megibas-ngibaskan tangan bertanda ‘tidak’.
What? So how? We have to stop here?  Katanya bus nomor 59 lewat Khaosan? gimana sih?
“Please stop. We’re just gonna stop here.” Akhirnya kami memutuska untuk turun. Daripada nyasar. Ribet kan?
Then here we are. Di tempat bus stop yang gelap sedikit remang karena kurang cahaya. Berpikir keras. Sedikit panik dan bingung. Please, ini hari pertamaaaa… L

 Lalu kami melihat seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berdiri. Dengan sedikit nekad kami mendekatinya, berharap mendapat pencerahan.
“Excuse me, do you speak English?”
Dan ternyata, dia tidak bisa bicara bahasa inggris sodara-sodara! Pupuslah harapan kami padanya. Kami lalu duduk di tempat menunggu bus. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi menuju Khaosan. Yah, mudah-mudahan saja tidak mahal
Setelah kami menyetop taxi dan menaikinya, kami segera bilang pada pak sopir.
“Khaosan please.”
And you know what? He just ngoceh-ngoceh tidak jelas seperti menggerutu. Oh my God, ternyata dia juga tidak bisa bahasa inggris! Sementara ia melajukan taxinya 100 km / jam. Kami berusaha tenang dan terus berdoa semoga saja si supir taxi tidak jahat. Setelah lama harap-harap cemas dan mengalami gangguan telinga akibat ocehan dan desahan dan gerutuan pak sopir itu, akhirnya kami tiba di khaosan road.
“Kaosan nah. Khaosan.” Katanya dengan dialek Thailand yang sangat jelas.
“Right. Ok just stop here.” Kami mengiyakan. Akhirnyaaa sampai juga kita di Khaosan!

***
 Tidak seperti jalanan Bangkok yang lain-dari bandara menuju Khaosan yang terbilang sepi (buktinya di dalam kota si supir kecepatannya 100 km/jam), di Khaosan road justru sebaliknya. Hingar bingar musik yang menghentak keras seakan tak kenal lelah. Setiap tempat adu volume. Turis-turis yang mayoritas berkulit putih berlalu-lalang dengan pakaian seadanya. Membuat kami bergidik ngeri. Inikah kehidupan malam mereka? Kami berjalan dengan agak risih. Bagaimana tidak? Kami dua perempuan berhijab berjalan di keramaian khaosan road yang seperti itu.
Akhirnya, kami sampai pada sebuah penginapan yang berada di jalan yang cukup sepi. Kami memutuskan menginap di sana karena beberapa alasan. Berdasarka review sebelumnya, tepat di depan penginapan itu ada semacam gedung pujasera tempat makanan halal. Jadi itu akan memudahkan urusan logistik kami. Sayangnya, saat itu, 24 November 2013 – gedung itu sedang di renovasi. Namun begitu, faktor badan yang kelelahan dan kelaparan serta suasana yang sepi membuat kami akhirnya  membooking kamar dengan fasilitas ac, kulkas tv dan water heater seharga 900 baht itu. Penginapan itu terletak di Tanee Road, dengan nama ‘Thai Cozy House’.

Selesai dengan urusan penginapan, kami dihadapkan pada urusan perut. Setelah berjalan menyusuri khaosan road yang hingar bingar itu, kami memutuskan untuk makan di sebuah mini resto India. Restoran halal. Kami menyantap nasi biryani yang kami pesan dengan lahap. Tadinya untuk berhemat kami tidak memesan minuman, namun dengan baik hati si pemilik restoran memberikan kami 2 botol air mineral. Okay, perut kenyang, mata ngantuk.


Setelah kami kembali ke penginapan dan bersih-bersih diri, tidak butuh waktu lama bagi mata kami untuk terpejam.
Sampai jumpa lagi besok, Bangkok!
***
Hari kedua :

Kami terbangun dengan perasaan senang. Karena begitu kami membuka mata, kami ingat bahwa kami sedang berada di Thailand untuk berpetualang. Maka kami segera bersiap-siap untuk mengunjungi beberapa destinasi hari ini.
Beruntung, kami tidak perlu repot mencari sarapan karena penginapan kami menyediakan sarapan gratis untuk dua orang. Satu porsi berisi dua butir telur ceplok, dua lembar roti yang dilengkapi dengan butter dan selai, plus satu cangkir teh hangat ( tehnya boleh nambah). Lumayan buat penghematan biaya perut. Hehe. Tidak sedikit orang yang memperhatikan kami saat kami sarapan. Ya, ya mungkin karena (lagi-lagi) kami mengenakan hijab dan kami cantik :p .

Hari ini kami akan mengunjungi sejumlah tempat wisata yang letaknya berdekatan karena berada dalam satu wilayah, yaitu Rattanakosin Island. Disebut pulau karena wilayah atau area tempat wisata ini berbatasan dengan Chao Praya River dan beberapa sungai kecil ( alam bahasa Thailand dsebut khlong), sehingga tampak seperti pulau. Karena Cukup banyak yang bisa dikunjungi di sana, kami mengagendakan waktu satu hari untuk berkeliling. Okay, berikut ini list bangunan yang kami ingin kunjungi :
1.       Grand Palace
2.       Temple of The Emerald Buddha (Wat Phra Kaew)
3.       Temple of Reclining Buddha (biasa dikenal dengan sebutan Wat Pho)
4.       Temple of the Dawn (Wat Arun)
5.       National Museum.
Tidak sulit untuk menuju tempat-tempat tersebut karena dari penginapan kami, kami cukup berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Bukan hal yang menjemukan karena kami bisa sambil melihat-lihat keadaan jalanan Thailand. Terlebih lagi waktu itu, 25 November 2013, demo sedang berlangsung di area pemerintahan di kota Bangkok. Dan kami berjalan melewati kerumunan orang yang berdemo.  Syukurlah demo hari itu berlangsung damai, tidak ada kericuhan apalagi sikap anarkis yang merugikan. Setelah 30 menit berjalan, akhirnya kami tiba di Grand Palace dan Emerald Buddha karena tempatnya memang bersebelahan. Sudah banyak sekali turis yang datang. Bermata biru, bermata sipit, berkulit terang, berkulit gelap, dan mereka mengoceh dalam bahasa yang kebanyakan tidak aku mengerti. Perlu diketahui bahwa untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus berpakaian sopan. Tidak boleh mengenakan atasan yang terlalu terbuka dan bawahan yang terlalu pendek. Turis-turis yang tidak masuk klasifikasi, diharuskan mengganti atau melengkapi baju mereka di tempat yang telah disediakan.

Grand Palace dan Emerald Buddha
Tempat ini terletak di Na Phra Lan Road, buka setiap hari pada pukul 08.30 – 16.30. untuk memasuki kedua tempat ini, dikenakan biaya sebesar 500 Baht (25 November 2013- 1 Rupiah = 380 Baht).

Bersambung...

2 comments:

  1. aaaaaa sampe bingung mau komen apa, saking sambil mengkhayal+berimajinasi bacanya :D :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai professional blog designer! Terimakasih looh udah nyempetin baca di tengah2 'kesibukan menata'. Hihihi. Tunggu cerita sambungannya yaaa. :D

      Delete